MAKALAH
AKHLAK TASAWUF
TENTANG
Definisi Akhlak, Tasawuf, Persamaan
Dan Perbedaan Serta Hubungan Keduanya

DI
SUSUN OLEH :
KELOMPOK I
1. AGUS RIZAL Nim: 15.3590
2. ADE IRAWAN
DOSEN PEMBIMBING :
M.YUSUF, S.Ag, M.Si
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( PAI )
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYEKH BURHANUDDIN ( STIT SB ) PARIAMAN
TAHUN 2016 / SEMESTER III
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Akhlak Tasawwuf adalah merupakan salah satu khazanah
intelektual Muslim yang kehadirannya hingga saat ini semakin dirasakan, secara
historis dengan teologis akhlak tasawwuf tampil mengawal dan memandu perjalanan
hidup umar agar selamat dunia dan akhirat.
Tidaklah berlebihan jika misi utama kerasulan Muhammad
SAW. Adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, dan sejarah mencatat bahwa
faktor pendukung keberhasilan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan
akhlaknya yang prima.
Khazanah pemikiran dan pandangan di bidang akhlak da
tasawwuf itu kemudian menemukan momentum pengembangan dalam sejarah, antara
lain ditandai oleh munculnya sejumlah besar ulama tasawwuf dan ulama di bidang
akhlak.
Bersamaan dengan itu perkembangan teknologi di bidang
alat-alat anti hamil, makanan minuman, dan obat-obatan telah membuka peluang
terciptanya kesempatan untuk membuat produk alat-alat, makanan, minuman dan
obat-obatan terlarang yang menghancurkan masa depan generasi muda.
Tempat-tempat beredarnya obat terlarang semakin
canggih. Demikian juga sarana yang membawa orang lupa pada tuhan, dan cenderung
maksiat terbuka lebar di mana-mana. Semua in semakin enambah beban tugas akhlak
tasawuf.
Melihat demikian pentingnya akhlak tasawwuf dalam
kehidupan ini tidaklah mengherankan jika akhlak tasawuf ditentukan sebagai mata
kuliah yang wajib diikuti oleh kita semua dikarenakan pentingnya tersebut.
Disadari bahwa masih banyak bidang akhlak tasawwuf
yang dapat dikemukakan, namun keterbatasan ilmu yang kami miliki kami mohon maaf
jika mempunyai kesalahan dalam pengumpulan data referensi yang kami kumpulkan
ini.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Akhlak?
2. Apa definisi Tasawuf?
3. Bagaimana untuk
memahami tujuan dari akhlak dan tasawwuf?
4. Apa saja faidah dari
mempelajari akhlak tasawwuf ?
5. Apa persamaan dan
perbedaan antara Akhlak dengan Tasawuf ?
6. Bagaimana Hubungan
antara Akhlak dengan Tasawuf?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN DAN DEFINISI AKHLAK
A. Pengertiannya
Kata akhlak
berasal dari bahasa arab yang sudah diindonesiakan, yang juga di istilahkan
perangai atau kesopanan. Kata اَخْلاَقٌ Adalah jama’ Ta’sir dari kata خُلُقٌ .
Kata tersebut diatas , merupakan
jamak taksir yang tetap, atau tidak dapat diubah ubah bentuknya dengan jama’
taksir yang lain. Hal ini , berbeda dengan kata جَمَلٌ ( Unta ): bisa diubah ubah bentuk jamak
taksirnya menjadi beberapa macam bentuk, Misalnya :
|
أَجْمَالٌ
|
|
جِمَالٌ
|
|
جِمَالَةٌ
|
|
جِمَالاَتٌ
|
|
أَجَامِلٌ
|
|
جَمَائِلٌ
|
|
جَمْلٌ
|
Dan
|
جَامِلٌ
|
Ahli bahasa arab
sering menyamakan arti akhlak dengan istilah :
الَسَّجِيَّةُ ,
اَلطَّبْعُ , اَلعَادَةٌ , اَلدِّيْنُ , اَلْمُرُوْءَةٌ
yang kesemuanya
diartikan dengan akhlak,watak, kesopanan, perangai, kebiasaan dan sebagainya.
Selanjutnya , Barmawie Umarie[1]
menguraikan pengertian sebagai berikut :
Asal kata akhlak adalah meervoud
dari khildun: yang mengandung segi-segi persesuaian dengan kata khaliq dan
makhluq. Dari sinilah perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi ugeran yang
memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara makhluk dengan khalik, serta
makhluk dengan makhluk lainnya.
B. Definisi Akhlak
Para Ulama Ilmu Akhlak merumuskan
ilmu akhlak dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakan, antara lain :
a. Al-Qurtuby mengatakan :
Suatu perbuatan
manusia yang bersumber dari adab-kesopanannya disebut akhlak, karena perbuatan
itu termasuk bagian dari kejadian.
b. Muhammad bin ‘Ilan Al-Sadiqy mengatakan :
Akhlak adalah
suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan yang baik,
dengan cara mudah ( Tanpa dorongan dari orang lain ).
c. Ibnu Maskawaih mengatakan :
Akhlak ialah
keaadaan jiwa yang selalu mendorong manusia berbuat, tanpa memikirkan lebih
lama.
d. Abu Bakar Jabir Al-Jaziri mengatakan :
Aklhak adalah
bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan
baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja.
e. Imam Al-Ghazali mengatakan :
Akhlak adalah
suatu sifat yang tertanam dalam jiwa ( manusia ) yang dapat melahirkan suatu
perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan ( lebih
lama ). Maka jika sifat tersebut melahirkansuatu tindakan yang terpuji menurut
ketentuan akal dan norma Agama, dinamakan akhlak baik . tetapi manakala ia
melahirkan tindakan yang jahat, dinamakan akhlak yang buruk.
Imam A-Ghazali menekankan, bahwa
akhlak adalah sifat yang teranam dalam jiwa manusia, yang dapat dinilai baik
dan buruknya, dengan menggunakan ukuran ilmu pengetahuan dan norma Agama.
Dari eberapa definisi diataas dapat
ditarik definisi lain bahwa akhlak adalah perbuatan manusia yang bersumber dari
dorongan jiwanya. Maka gerakan refleks, denyut jantung dan kedipan mata tidak
dapat disebut akhlak , karena gerakan tersebut tidak diperintahkan dari
unsur kejiwaan.
Dorongan jiwa yang melahirkan
perbuatan manusia , pada dasarny
bersumber dari kekuatan bathin yang dimilki oleh setiap manusia, Yaitu :
Ø
Tabiat ( pembawaan ), ialah
suatu dorongan jiwa yag tidak dipengaruhi oleh lingkungan manusia, tetapi
disebabkan oleh aluri dan faktor warisan sifat-sifat dari orang tuanya atau
nenek moyangnya.
Ø
Akal – fikiran yaitu
dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu,
mendengarkan, merasakan, dan merabanya. Alat kejiwaan ini , hanya dapat menilai
sesuatu yang lahir ( yang nyata ). Dorongan ini disebut dengan istilah Al- Aqlu.
Ø
Hati nurani yaitu dorongan
kejiwaan yang hanya dipengaruhi oleh faktor intuitif ( wijdan ) . alat kejiwaan
yang dapat menilai hal-hal yang sifatnya abstrak ( yang bathin ) . dorongan ini
disebut Al- Bashirah. Karena dorongan ini mendapatakn ketereangan ilham dari
Allah.
Ketiga kekuatan kejiawaan dalm diri manusia inilah yang menggambarkan
hakikat manusia itu sendiri. Maka konsep dalam pendidikan dalam islam , selalu
memperhatika ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan
seimbang sehingga terwujud manusia yang ideal ( Insal Kamil ) menurut konsepdi
Islam.
C. Akhlak dan Ilmu Akhlak
Akhlak adalah suatu istilah Agama yang dipakai menilai perbuatan manusia,
apakah itu baiak atau buruk, sedangkan ilmu Akhlak adalah suatu illmu
pengetahuan Agama Islam, yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada
manusia.
D. Etika dan Moral
Etika ( Ethos ) adalah kata Yunani yang bearti Adat, watak atau
kesusilaan. Sedagkan Moral ( Mos ) yang jama’nya Mores adala kata latin yang
berarti adat atau cara hidup.
a. Istilah Etika digunakan untuk mengkaji sistem nilai yang ada,
oleh karena itu etika merupakan suatu ilmu.
b. Istilah Moral digunakan untuk memberikan keritaria perbuatan
yang sedang dinilai. Oleh karena itu moral bukan suatu ilmu, tetapi merupakan
suatu perbuatan manusia.
E. Jenis-jenis Akhlak
a) Akhlak baik /terpuji, yaitu perbuatan baik terhadap Tuhan,
sesama manusia dan makhluk-makhluk yang
lain.
b) Akhlak buruk/ tercela yaitu perbuata buruk terhadap tuhan,
sesama manusia dan makhluk-makhluk yang lain.
2.2. TASAWUF
A. Pengertian Tasawuf
Dari segi bahasa terdapat sejumlah
kata atau istilah yang dihubungkan para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf,
Harun Nasution misalnya menyebut kan lima hal yang berkenaan dengan tasawuf,
yaitu al-shuffah (ahl-al-shuffah),(orang yang ikut nabi dari makkah ke
madinah) , saf ( barisan ), sufi ( suci ), shopos ( bahasa
yunani: hikmat ), dan suf ( kain wol ). Keseluruhan kata-kata ini bisa
saja dihubungkan dengan tasawuf.
Dari segi linguistik (kebahasaan) ini segera dapat dipahami bahwa
tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri yang pada
hakikatnya adalah akhlak yang mulia.
Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah atau pendapat para ahli amat
bergantug pada sudut pandang yang digunakan masing-masing, selama ini aada tiga
sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisika tasawuf, yaitu sudut
pandang manusia sebagai makhluk terbatas, manusia sebagai makhluk yang harus
berjuang, dan manusia sebagai makhluk yang bertuhan. Jika dilihat dari sudut
pandang manusia yang terbatas maka tasawuf dapat didefinisikan sebagai upaya
mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan
perhatian hanya kepada Allah SWT.
Jika dilihat sudut pandang manusia yang harus berjuang maka tasawuf dapat
didefinisikan sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari
ajaran agamadalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT,dan jika sudut
pandang manusia sebagai makhluk yang bertuhan, maka tasawuf dapat didefinisikan
sebagai kesadaran fitrah.[2]
Para ahli dalam bidang tasawuf hampir sepakat mengatakan bahwa sulit
untuk merumuskan pengertian tasawuf . diantara sebab utama terjadinya hal itu
karena tasawuf merupakan refleksi diri dan pengalaman pribadi seseorang[3].
Sementara itu salah seorang Ulama asal minangkabau Hamka, juga mengemukakan
pendapat yang senada. Menurutnya, arti tasawuf dan asal katanya menjadi
pertikaian ahli logat atau bahasa, yaitu: pertama, shafa yang berarti
suci bersih, ibarat kaca. Kedua dari kata shuf yang berarti bulu
binatang (dibaca wol kasar)dan mereka tidak menyukai pakaian yang indah-indah.
Ketiga berasal dari kata shuffah yang diasosiasikan kepada segolongan
sahabat nabi yang menyisihkan dirinya di suatu tempat terpencil disamping
mesjid nabi. Keempat berasal dari kata shufanah yaitu sebatang kayu
mersik yang tumbuh dipadang pasir arab. Kelima, dari theosofie, yang
berarti ilmu ketuhanan yang kemudian diucapkan oleh lidah orang arab sehingga
berubah menjadi tasawuf. Asal kata kelima inilah menurut Hamka baru digunakan
untuk zaman akhir ini dan oleh para ahli yang menganggap sufi bukan berasal
dari bahasa Arab, tetapi dari bahsa yunani yang diarabkan[4]
B. Definisi Tasawuf.
Para ulama
tasawuf berbeda cara mamndang kegiatan tasawuf sehingga mereka merumuskan
definisinya juga berbeda
Ada definisi yang dikemukakan oleh
para ahlinya :
1. Shekh Muhammad Amin al-Kudri
“Tasawuf adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ikhwal
kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari ( sifat-sifat ) yang
buruk dan mengisinya dengan sifat2 terpuji cara melakukan suluk, melangkah
menuju ( keridhaan ) Allah dan meninggalkan ( Laranganya ) menuju kepada (
perintahnya ).
2. Imam Al-Ghazali mengemukakan pendapat Abu Bakar Al Kuttai.
Tasawuf
adalah budi pekerti ; barang siapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu,
bearti ia memberikan bekal atas dirimu dalam tasawuf. Maka hamba yang jiwanya
menerima ( perintah ) untuk beramal, karena sesungguhnya mereka melakukan suluk
dengan Nur ( petunjuk ) islam. Dan ahli zuhud yang jiwanya menerima ( perintah
) untuk melakukan beberapa akhlak ( terpuji ) karena mereka telah melakukan
suluk dengan nur ( petunjuk )Imannya.[5]
C. Sejarah Kemunculan tasawuf
Jika dilihat dari sudut pandang munculnya tasawuf , praktek
dan substansi ajaran tasawuf sebenarnya sebenarnya sudah melembaga dalam setiap
invidu para sahabat nabi dan akan lebih nyata lagi pada pribadi nabi Muhammad
SAW sendiri. Munculnya tasawuf sebagai disiplin ilmu tasawuf tersendiri baru
nampak setelah ia diperdebatkan sebagai satu istilah sekitar akhir abad kedua
Hijriah ( 815 H) yang dinamakan wol kasar atau shuf.
Pakaian ini banyak digunakan para zahid muslim sebagai
pembeda diri mereka dengan orang lain yang senantiasa memakai pakaian mewah.
Dalam kondisi ini shuf/wol kasar merupakan simbol sebagai orang hidup fakir
dihadapan Allah SAW. Dan sejarahnya zahid pertama yang menggunakanya adalah Abi
Hasan Al Khuff ( W.150 H ) .
Perwujudan tasawuf secara resmi ini yang terkesan
terlambat tersebut dijadikan landasan kritik bagi oreantalis, bahwa tasawuf
bukan muncul dari dunia islam melainkan kemunculannya dipengaruhi oleh berbagai
diluar islam/tradisi kerohanian agama-agama lain.
Terkaitan dengan rumusan akar kata tasawuf ini ,barangkali menarik dan penting menguntip
pendapat Harun Nasution[6],
secara komprensif yang mengemukakan lima rumusan asal kata tasawuf, yaitu :
1. Pertama ahl al shuffaah ,yang beararti orang yang ikut
nabi hijriah dari mekah ke madinah yang merupakan refleksi keikhlasan seseorang
meninggalkan harta benda demi kepentingan
Allah dan Rasul-Nya.
2. Kedua Shaff yang bermakna saf pertama dalam sholat
berjama’ah yang mendapat kemuliaan dan pahala, begitu juga dengan kaum sufi
dimuliakan Allah SWT dan diberi pahala yang berlimpah.
3. ketiga ;shufi ,yang bermakna bersih atau suci ,yaitu
orang yang telah mensucikan dirinya dengan latihan-latihan (riyadhah)
yang berat dan lama.
4. Keempat: Shophos, dari bahasa yunani yang berarti hikmah,
dimana orang orang sufi adlah orang-orang yang mendapat atau mempunyai hikmah.
Dengan demikian seorang sufi merupakan gambaran kearifan jiwa yang senantiasa
cenderung kepada kebenaran.
5. Kelima : dari kata shuff, yang berarti kain wol kasar
yang senantiasa yang dipakai kalangan sufi sebagai simbol kesederhanaan, tidak
mementing kehidupan materialisme duniawi, sehingga tetap dalam tuntunan
mengabdi kepada Allah SWT.
2.3. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANTARA AKHLAK DAN ILMU TASAWUF
A. Persamaan Etika, Moral, dan Akhlak
1. Persamaan
- Persamaan ketiganya terletak pada fungsi dan peran, yaitu menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia untuk ditetapkan baik atau buruk.
- Secara rinci persamaan tersebut terdapat dalam tiga hal:
1)
Objek: yaitu perbuatan manusia
2) Ukuran:
yaitu baik dan buruk
3) Tujuan:
membentuk kepribadian manusia[7]
2. Perbedaan
1) Sumber atau
acuan:
a. Etika
sumber acuannya adalah akal
b. Moral
sumbernya norma atau adapt istiadat
c. Akhlak
bersumber dari wahyu
2) Sifat
Pemikiran:
a. Etika
bersifat filososfis
b. Moral
bersifat empiris
c. Akhlak
merupakan perpaduan antara wahyu dan akal
3) Proses
munculnya perbuatan:
a.
Etika muncul ketika ad aide
b.
Moral muncul karena pertimbangan suasana
c.
Akhlak muncul secara spontan atau tanpa
pertimbangan.[8]
B. Hubungan Manusia dengan Etika, Moral dan Akhlak
Beberapa hari terakhir ini kita mendapat sajian fakta
hukum yang mengenaskan dalam perjalanan Republik ini. Mafia hukum bertebaran
dimana-mana, bahkan sampai mencabik-cabik prosedur hukum yang telah dijalankan
pemerintah. Makelar hukum yang biasa dikenal markus juga begityu perkasa
merekayasa berbagai status hukum yang tak jelas duduk perkaranya.
Akhirnya, aparat penegak hukum menjadi aktor yang
merusak tatanan sistem hukum itu sendiri. Fakta hukum di Indonesia inilah yang
sekarang menjadi keluh-kesah masyarakat. Bahkan masyarakat sekarang tidak
sedikit yang apriori, bahkan tidak lagi percaya atas kasus perkara yang
diajukan ke meja hijau. Karena hukum sudah dibeli oleh oknum tak
bertanggungjawab. Kasus “cicak” versus “buaya” yang sampai sekarang belum usai
adalah fakta empiric bobroknya penegakan hukum di Indonesia.
Berangkat dari fakta inilah, menarik kalau kita
menjelajah buku bertajuk “Etika dan Hukum; Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas
Aquinas”. Bertolak dari pemikirannya Thomas Aquinas, penulis melihat bahwa
hukum pada dasarnya merupakan “peta jalan” menuju kebahagiaan. Hukum merancang
atau memetakan arah yang harus diambil manusia dalam perbuatan, jika manusia
ingin mencapai tujuan akhir yang dicarinya.
Peta tersebut adalah hasil karya budi manusia, sebab
sebelum peta itu dibuat terlebih dahulu orang harus memikirkan tujuannya dan jalan
yang dapat menuntunnya kearah tujuan tersebut. Demikian juga arah dan tujuan
hidup manusia. Dalam hal ini, hukum selalu merupakan perintah atau petunjuk
akal budi yang mengatur perbuatan manusia menuju sasarannya, yakni kebahagiaanan
kebaikan umum[9] (hlm. 243).
Alam pandangan hukum kodrat, manusia akan secara
alamiah membentuk dan mengoraganisir diri dalam membentuk tatanan sosial dan
politik. Semua itu dilakukan manusia demi memenuhi kebutuhan hidup bersama
berdasarkan kebaikan dan kesejahteraan umum. Sebenarnya, bagi Aquinas, dalam
diri manusia sudah ada tiga aspek pengaturan yang ditetapkan. Yang pertama,
berhubungan dengan aturan akal budi, karena semua perilaku dan perasaan kita
harus diatur berdasarkan aturan akal budi. Kedua, berhubungan dengan aturan yang
berasal dari hukum ilahi, yang dipergunakan untuk mengatur manusia dalam segala
kehidupannya.
Seandainya manusia menurut kodratnya harus hidup
sendirian, dua aspek pengaturan ini sudah memadai, namun karena manusia menurut
hukum kodratnya adalah makhluq politik dan makhluq sosial, maka diperlukan
aturan ketiga, yakni manusia harus diarahkan untuk hidup (selalu) dalam
hubungan dengan sesamanya.
Independensi manusia dalam menegakkan hukum ini
mendapat perhatian serius dari Aquinas. Karena setiap persona mempunyai
substansi kehidupannya sendiri yang berperan sangat penting dalam penegakan
sebuah hukum. Nilai-nilai dasar kemanusiaan sebenarnya sudah melekat dalam diri
persona manusia. Kedudukan yang substansial ini dikarenakan, pertama, manusia
adalah makhluq otonom dan unik; kedua, manusia adalah persona yang korelatif.
Otonomi dan kebebasan adalah dimensi transedental manusia sebagai persona.
Manusia juga memiliki kodrat rasional, sehingga manusia adalah makhluq yang
“sadar diri” atau memiliki kemampuan untuk berbuat secara manusiawi. Sedangkan
dalam kodrat substansial, manusia mampu untuk menghadirkan diri dan berkembang
sebagai subjek yang otonom.
Kodrat rasional yang substansial inilah yang membentuk
pola etis kehidupan manusia. Karena dalam diri manusia terdapat kecenderungan
pada kebaikan sesuai dengan kodrat yang juga berlaku untuk semua substansi,
sedemikian rupa sehingga setiap substansi mengusahakan pelestarian
keberadaannya sesuai dengan hekakat kodratnya. Dalam kaitan inilah, Aquinas
menyatakan bahwa segala sesuatu yang diketahui hekaket tujuan akhir, memiliki
hakekat baik. Pernyataan ini menjadi akar penjabaran Aquinas tentang teori
moralnya. Karena makhluq rasional yang berakal budi, maka manusia haruslah
“sadar diri” dalam posisinya sebagai makhluq. Dengan “adar diri” ini, manusia
akan menjadi tuan atas perbuatannya. Tuan bagi perbuatan inilah yang
mengantarkan manusia kepada hakekat kemanusiaanya, dan disitulah manusia dengan
akal budinya berjalan dalam nilai etis moralnya dalam menjalankan kehidupan.
Akal budi manusia akan menuntun manusia untuk
menemukan wujud kebaikan dan keadilan yang didambakan. Akal budi menjadi asas
pertama perbuatan manusia, dan hukum merupakan aturan dan ukurannya, yang sudah
seharusnya hukum memang bersumber dari akal budi. Jika hukum disusun supaya
dapat mengikat perbuatan manusia, maka hukum harus adil dan membimbing manusia
menuju tujuan akhir, yakni kebaikan. Kebaikan dan keadilan akan membuka
keharusan ketaatan moral untuk menjadikan hukum sebagai penegak tata social yang
harmonis dan seimbang. Rasa kebaikan dan keadilan akan membingkai moralitas
dalam penegakan hukum.
Moralitas penegak hukum bisa ditegakkan dengan selalu
mencerahkan akal budianya untuk terus “sadar diri” atas keberadaannya sebagai
“tuan” atas perbuatan yang dijalankan. “Sadar diri” inilah yang menjadi pangkal
tolak yang diajukan Aquinas dalam membingkai hubungan etika dalam penegakan
hukum. Kesadaran diri manusia harus selalu diolah, karena bagi Aquinas,
kesadaran diri merupakan potensi yang harus ditafsirkan secara kritis, sehingga
akan melahirkan gagasan yang segar dan mencerahkan. Makhluq yang “sadar diri”
pastilah akan membuka jalan baru kehidupan yang mencerahkan dan membahagiakan.
Dalam konteks ini, fakta rusaknya penegakan hukum di
Indonesia bisa ditafsirkan sebagai ambruknya nilai “sadar diri”, sehingga
jatuhlah nilai dan hekakat hukum. Penegak hukum bukan lagi “tuan” atas
perbutannya, tetapi “tuan” bagi kekuasaan, uang, dan jabatan.[10]
2.4. KEDUDUKAN AKHLAK DAN TASAWUF DALAM ISLAM SERTA HUBUNGAN KEDUANYA
A. Kedudukan akhlak dalam islam
Beberapa
abad sebelum lahirnya agama islam disunia ini penuh kegelapan dengan runtuhnya
peradaban manusia, yang sebenarnya diakibatkan oleh penyimpangan manusia dari
agama tauhid yang telah dianut oleh leluhurnya, semenjak Nabi Adam As hingga
Nabi Isa As.
Ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi
sejak awal hingga masa lahirnya agama islam selalu menjaga martabat kemanusiaan
agar tidak mengalami penurunan yang berakibat menyamaai martabat kebinatangan.
Tetapi apa yang dikhawtirkan oleh nabi2 betul-betul terjadi dikalangan manusia
dimana mereka saling merusak dirinya dengan bermaacam kezaliman bahkan nabinya
juga dimusuhi dengan dibunuh dengan alsan bahwa ialah yang menghalangi2 kebebbasan mereka melakukan
hal-hal yang dikeendakinya.
Untuk mengetahui kedudukan akhlak dalam islam maka perlu
diuraikan bahwa ada tiga macam sendi islam :
1.
Masalah Aqidah, yang meliputi keenam macam
rukun islam.
2.
Masalah Syari’ah, yang meliputi pengabdian hamba terhadap tuhannya
yang dapat dilihat dalam rukun islam yang lima.
3.
Masalah Ihsan, yang meliputi hubungan terhadap
Allah SWT, terhadap manusia dan seluruh makhluk hidup didunia ini.
B. Kedudukan Tasawuf Dalam Islam
Telah
disebutkan pembahasan dimuka , bahwa
ajaran akhlak dan tasawuf terdapat dalam sendi ajaran ihsan, maka tasawuf itu
sendiri merupakan pengalaman hamba yang melahirkan kebijakan rohani untuk
mendapatkan ma’rifah kepada Allah SWT.
Mengenai kedudukan tasawuf dalam
islam terdapat beberapa pendapat yang mengatakan, bahawa hal itu tidak termasuk
bagian integral dari ajaran islam dengan mengmukakan argumentasi :
1.
Tidak terdapat satupun kata tasawuf dan sufi
dalam Qur’an dan Hadits
2.
Banyak istikah tasawuf yang sering digunakan
sufi yang tidak ditemukan oleh al qur;an dan hadis.
3.
Timbulnya istilah tasawuf dan sufi beserta
dengan ajarannya baru dikenal pada abad hijriyah.
4.
Ajaran tasauf yang di amalkan oleh orang islam
mirip dengan ajaran mistik yang telah diamalkan oleh umat terdahulu.
Ajaran
tasauf dalam islam,memang tidak sama kedudukan hukumnya dengan rukun iman dan
islam yang sifatnya wajib,tetapi ajaran tasauf bersifat sunnah.maka ulama
tasauf sering menamakan ajaranya dengan istilah fadaiul aamal. Memang ajaran
tasauf harus diakui bahwa tidak ada satupun ayat atau hadis yang memuat kata tasauf dan sufi, karena istilah
ini baru timbul ketika ulama tasauf berusaha membukukan ajran itu. Uapaya ulama
tasauf memperkenalkan ajranya lewat metode peribadatan dan istilah-istilah yang
telah diperoleh dari pengalaman batinya, yang memang metode dan istlah itu
tidak didapatkan ayatnya di dalam al qur,an dan hadis. Tetapi sebenarnya
ciptaan ulama tasawuf tentang hal tersebut, di dasarkan pada al qur,an dan
hadits dengan perkataan udhkuru atau fadhuru.
Ulama
tasawuf yang sering juga disebut ulama Al- Muhaqiqin membuat tatacara
peribadatan unrtuk mencapai tujuan tasawuf berdasarkan konsepsi dan motivasi
beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits, yang
artinya :
sesungguhnya
kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.Kemudian kami
kembalikan ketmpat yang serendah-rendahnya (neraka ).
Dalam
ayat pertama diterangkan bahwa manusia diciptakan sebaik-baiknya. Bahwa manusia diciptakan sebaik-baik kejadian, namun
karna perbuatan manusia itu sendiri, maka Allah mengembalikannyakepada tempat
yang hina.
Ajaran tasawuf termasuk
ke dalam ajaran islam yang tercakup dalam sendi ihsan, yang berfungsi
memperkuat sendi Aqidah ( Keimanan ) dan sendi Shari’ah. Maka sering kita
jumpai pembagian tasawuf menjdai tiga macam, yaitu :
1. Tasawuf Aqidah : yaitu
lingkup pembicaraan tasawuf yang menekankan maslah-masalah metafisis ( hal-hal
yang ghaib ), yg unsure unsurnya adalah keimanan kepada tuhan, seperti adanya
malaikat, Syurga dan neraka dan sebagainya.
2. Tasawuf Ibadah : yaitu
tasawuf yang menekankan pembicaraan dalam masalah rahasia Ibadah ( Asraru Al Ibadah ) . disamping itu
Hamba yang melakukan ibadah, dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu
a) Tingkatan orang-orang
biasa (Al-Awam ) sebagai
tingkatan pertama.
b) Tingkatan orang-orang
yang istimewa (Al-Khawas ) sebagai tiingkatan kedua.
c) Tingkatan orang-orang
yang Teristimewa atau yang luar biasa sebagai ( Khawas Al Khawas )
tingkatan yang ketiga.
Kalau tingkatan pertama
dimaksudkan sebagai orang-orang biasa pada umumnya, maka tingkatan kedua
dimaksudkan sebagai para Wali ( Al Aulia ), sedangkan tingkatan ketiga
dimaksudkan sebagai para nabi ( Al Anbiya’)
3. Tasawuf Akhlaki : yaitu
tasawuf yang menenkankan pembahasan pada budi pekerti yang akan mengantarkan
manusia mencapai kebahagiaan dunia akhirat, sehingga di dalamnya dibahas
beberapa masalah akhlak, antara lain :
a) Bertaubat ( At-Taubah),
yaitu keinsafan seseorang dari perbuatan yang buruk, sehingga ia menyesali
perbuatannya, lalu melakukan perbuatan baik.
b) Bersyukur ( As-Shukru),
yaitu berterimakasih kepada Allah dengan menggunakan segala nikmatnya kepada
hal-hal yang dipertintahkannya.
c) Bersabar (Ash-Sabru),
yaitu tahan terhadap kesulitan dan musibah yang menimpanya.
d) Bertawakal
(At-Tawakkul), yaitu memasrahkan sesuatu kepada Allah SWT.
e) Bersikap iklas
(Al-Ikhlas), yaitu membersihan perbuatan dari riya (sifat yang
menunjuk-nunjukan kepada orang lain), demi kejernihan perbuatan yang kita
lakukan.
2.5. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA
A. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Para ahli ilmu Tasawuf
pada umumnya membagi tasawuf kepada 3 bagian yaitu tasawuf falsafi, tasawuf
akhlaki dan tasawuf amali. Ketiga tasawuf ini memiliki tujuan yang sama yaitu
mendekatkan diri kepada allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang
tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji.
Pada tasawuf falsafi
pendekatan yang digunakan pendekatan rasio atau akal pikiran. Sedangkan tasawuf
akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak yang tahapannya
terdiri dari takhalli,tahalli dabn tajalli. Sedangkan tasawuf amali pendekatan
yang digunakan adalah pendekatan amaliayah atau wirid.
Tasawuf pada
hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti sholat, puasa, haji, dzikir,
dan lainnya. Ibadah yang dilakukan dalam rangka tasawuf itu erat hubungannya
dengan akhlak.
Dalam hubungan ini
Harun Nasution mengetakan bahwa ibadah dalam islam erat sekali hubungannya dengan
pendidikan akhlak. Ibadah dalam al-Qur’an dikaitkan dengan takwa dan takwa
berarti melaksanakan perintah tuhan dan menjauhi larangannya yaitu orang-orang
yang berbuat baik dan jauh dari yang tidak baik. Inilah yang disebut denagn
ajaran amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak
orang pada kebaikan dan mencegah orang dari hal-hal yang tidak baik.
B. HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF DALAM ISLAM
Untuk mengetahui
hubungan Akhlak dengan Tasawuf dalam islam, maka ada beberapa pertanyaan yang
dapat dijadikan keterangan; misalnya Ulama yang mengatakan bahwa akhlak itu
merupakan pankal tolak tasawuf, sedangkan Tasawuf adalah batas akhir akhlak.
Begitu juga halnya
pernyataan Al-Kattaniy yang telah
dikemukakan oleh Imam Al-Gazali yang menyatakan hubungan yang sangat erat antara
akhlak dengan Tasawuf yang dilukiskan dalam pernyataan yang berbunyi :
Artinya:
Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atas mu
dalam budi pekerti, maka berarti ia menyiapkan bekal atas dirimu dalam Tasawuf.
Untuk memperkuat pemahaman tentang keseimbangan dunia dengan urusan
akhirat yang harus diperhatikan oleh Islam, maka ada salah satu hadits yang
menerangkannya :
اِعْمَلْ عَمَلَ امْرِئً
يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَمُوْتَ أَبَدًا , وَاحْذَرْحَذْرَامْرِئٍ أَنْ يَمُوْتَ غَدًا
( الروي فى السنن عن عمرو )[11]
Artinya: Kerjakanlah
(sesuatu yang sama dengan)amalan seseorang yang tidak akan mati selama-lamany,
dan lakukanlah (sesuatu yang sama dengan) perbuatan seseorang yang akan mati
besok. Perawi hadits ini terdapat dalam Kitab Sunnah, yang bersumber dari ‘Amr.
Ada dua macam pemahaman untuk yang terkandungan dalam hadits ini, yaitu:
1. Mengandung
pemahaman untuk menyeimbangan urusan dunia dengan akhirat, yang harus dilakukan
dengan volume waktu dan tenaga yang seimbang.
2. Mengandung
pemahaman tentang keharusan
bersungguh-sungguh bila melakukan urusan dunia, dan berbuat dengan rajin bila
mengerjakan urusan istirahat.
C. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Ilmu
tauhid adalah ilmu yang membahas tentang cara-cara mengesakan tuhan, selain itu
ilmu ini juga disebut sebagai ilmu Ushul al-din, selain itu ilmu ini disebut
juga ilmu aqa’id atau keyakinan-keyakinan.
Ilmu
tauhid disebut juga ilmu kalam berarti ilmu yang membahas tentang kata-kata
atau silat lidah dalam rangka mempertahankan pendapat dan pendirian
masing-masing.
Hubungan
ilmu akhlak dengan ilmu tauhid dapat dilihat melalui analisi yaitu:
pertama
dilihat dari segi objek pembahasannya, ilmu tauhid membahas masalah tuhan baik
dari segi zat, sifat dan perbuatannya, ilmu tauhid akan mengarahkan manusia
menjadi ikhlas dan keikhlasan ini merupakan salah satu akhlak yang mulia.
Kedua
dilihat dari segi fungsinya ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid
tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman yang enam dengan dalil-dalilnya
yang terpenting adalah agar orang yang bertauhid itu meniru dan mencontoh
terhadap subjek yang terdapat dalam rukun iman itu. Jika kita percaya allah
bahwa allah memiliki sifat-sifat tuhan itu maka sebaiknya manusia meniru sifat
tersebut dengan mengembangkan sikap kasih sayang dimuka bumi.
Demikian
juga jika seseorang beriman kepada malaikat maka hendaknya meniru sifat-sifat
yang terdapat pada malaikat seperti jujur, tidak pernah durhaka,dan patuh
terhadap perintah tuhan. Dengan cara demikian percaya kepada malaikat akan
membawa kepada perbaikan akhlak yang mulia sebagai mana firman allah :
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä
(#þqè%
ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3Î=÷dr&ur #Y$tR
$ydßqè%ur
â¨$¨Z9$#
äou$yfÏtø:$#ur $pkön=tæ îps3Í´¯»n=tB
ÔâxÏî
×#yÏ© w
tbqÝÁ÷èt ©!$#
!$tB
öNèdttBr&
tbqè=yèøÿtur $tB tbrâsD÷sã ÇÏÈ
Artinya
: “(malaikat-malaikat) itu tidak
mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkannyakepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkannya”(Qs Al-Tahrim{66}:6)”
$¨B àáÏÿù=t
`ÏB @Aöqs%
wÎ)
Ïm÷ys9
ë=Ï%u ÓÏGtã ÇÊÑÈ
Artinya
:“Tiada suatu ucapannya yang diucapkannya melainkan ada didekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadirQs Qaaf{50}:18)”
Selanjutnya
beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Tuhan khususnya Al-Quran, maka
secara akhlaki harus diikuti dengan upaya menjadikan Al-Quran sebagai wasit,
hakim serta imam dalam kehidupan dan diikuti dengan mengamalkan segala perintah
yang ada dalam Al-Quran dan menjauhi apa yang dilarangnya. Firman allah yang
artinya:
ôs)©9
tb%x. öNä3s9
Îû ÉAqßu «!$#
îouqóé&
×puZ|¡ym
`yJÏj9
tb%x. (#qã_öt ©!$#
tPöquø9$#ur
tÅzFy$#
tx.sur
©!$#
#ZÏVx.
ÇËÊÈ
Artinya
: “sesungguhnya telah ada pada diri rasullullah itu suri teladan yang baik
bagimu yaitu orang-orang yang mengharap rahmat allah dan kedatangan hari kiamat
dan dia banyak menyebut allah (Qs Al-Ahzab{33}:21).
Ayat-ayat
tersebut memberi petunjuk dan mengingatkan kepada manusia bahwa pada diri rasulullah
sudah terdapat contoh akhlak yang mulia. Jika hal tersebut dinyatakan dalam
Al-quran maka makudnya adalah agar diamalkan. Dengsn cara demikian beriman
kepada para rasul akan menimbulkan akhlak yang mulia. Hal ini dapat diperkuat
dengan cara meniru sifat-sifat yang wajib pada rasul yaitu sifat shidik,
amanah, tabliqh dan fathanah. Jika semua itu ditiru oleh manusia yang
mengimaninya, maka akan dapat menimbulkan akhlak yang mulia, dan disinilah
letak hubungan Ilmu Akhlak dan Ilmu Tauhid.
Rukun
iman yang ke enam ternyata erat kaitannya dengan pembinaan akhlak yang mulia.
Dengan demikian, dalam rangka pegembangan Ilmu Akhlak, bahan-bahanya dapat
digali dari ajaran tauhid atau keimanan tersebut.
Hubungan
Ilmu Tauhid dengan Ilmu Akhlak dapat pula dilihat dari erat kaitan antara iman
dan amal salih misalnya kit abaca ayat yang berbunyi:
xsù
y7În/uur w
cqãYÏB÷sã 4Ó®Lym
x8qßJÅj3ysã
$yJÏù
tyfx©
óOßgoY÷t/
§NèO
w
(#rßÅgs þÎû
öNÎhÅ¡àÿRr& %[`tym $£JÏiB
|MøÒs%
(#qßJÏk=|¡çur
$VJÎ=ó¡n@
ÇÏÎÈ
Artinya
: “Maka demi Tuhan engkau, mereka belumlah dinamakan beriman, sebelum mereka
meminta keputusan kepada engkau (muhammad) dalam perkara yang menjadi
perselisihan diantara mereka, kemudian itu mereka tidak merasa keberatan dalam
hati mereka terhadap apa yang telah engkau putuskan dan mereka menerima dengan
senang hati. (Qs Al-Nisa{4}:65)”
$yJ¯RÎ) tb%x. tAöqs%
tûüÏZÏB÷sßJø9$# #sÎ) (#þqããß
n<Î) «!$#
¾Ï&Î!qßuur
u/ä3ósuÏ9
öNßgoY÷t/
br& (#qä9qà)t
$uZ÷èÏJy $uZ÷èsÛr&ur 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd
tbqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÊÈ
Artinya
: “ucapan orang yang beriman itu, apabila mereka dipanggil kepada allah dan
rasulnya untuk diputuskan perkara diantara mereka, hanyalah mengatakan: “kami
dengar dan kami patuhi”, dan itulah orang yang beruntung. (Qs Al-Nur{24}51).
$yJ¯RÎ) cqãYÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä
«!$$Î/
¾Ï&Î!qßuur
§NèO
öNs9
(#qç/$s?öt
(#rßyg»y_ur
öNÎgÏ9ºuqøBr'Î/ óOÎgÅ¡àÿRr&ur Îû È@Î6y «!$#
4 y7Í´¯»s9'ré&
ãNèd
cqè%Ï»¢Á9$# ÇÊÎÈ
Artinya
: “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman kepada
allah dan rasulnya, kemudian itu mereka tidak ragu-ragu dan senantiasa berjuang
dengan harta dan dirinya dijalan allah. Itulah orang yang benar (keimananya).
(Qs Al-Hujurat,{49}:15).
Ayat-ayat
diatas memberi petunjuk dengan jelas bahwa keimanan harus dimanifestasikan
dalam perbuatan akhlak dalam bentuk kerelaan dalam menerima keputusan yang
diberikan nabi terhadap perkara yang diperselisihkan diantara manusia, patuh
dan tunduk terhadap keputusan allah dan rasulnya, bergetar hatinya jika
mendengar ayat-ayat allah dibacakan, bertawakal, melaksanakan sholat yang
khusyu, berinfak dijalan allah, menjauhi perbuatan yang tidak ada gunakan,
menjaga fajrinya dan tidak ragu-ragu dalam berjuang dijalan allah. Disinilah
letak hubungan antara keimanan dengan pembentukan akhak.
Ilmu
Tauhid tampil memberikan landasan terhadap Ilmu Akhlak dan Ilmu Akhlak t ampil
memberikan penjabaran dan pengamalan dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa akhlak yang
mulia tidak akan ada artinya, dan akhlak yang mulia tanpa tauhid tidak akan
kokoh. Selain itu Tauhid memberikan arah terhadap akhlak, dan akhlak memberi
isi terhadap arahan tersebut. Disinilah letak nya hubungan yang erat dan dekat
antara tauhid dan akhlak.
D. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Ilmu
jiwa mengarah pembahasannya pada aspek batin manusiadengan cara
menginterprestasikan prilakunya yang tampak. Melalui bantuan informasi yang
diberikan oleh Ilmu Jiwa atau potensi kejiwaan yang diberikan al-Quran, maka
secara teoritis Ilmu Akhlak dapat dibangun dengan kokoh.
Dalam
diri manusia terdapat potensi rohaniah yang cendrung kepada kebaikan dan
keburukan. Potensi rohaniah ini dikaji dalam Ilmu Jiwa. Untuk mengembangkan
Ilmu Akhlak kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan oleh Ilmu Jiwa.
Selain
itu dalam Ilmu Jiwa juga terdapat perbedaan psikologis yang dialami seseorang
pada setiap jenjang usianya. Misalnya pada usia balita cendrung emosional dan
manja pada usia anak-anak cendrung meniru orang tuanya dan bersikap rekreatif.
Gejala psikologis seperti ini akan memberikan informasi tentang perlunya
menyampaikan ajaran akhlak yang sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam
kaitan ini dapat dirumuskan sejumlah metode dalam menanamkan akhlak yang mulia.
Dengan demikian Ilmu Akhlak dapat memberikan masukan dalam rangka merumuskan
tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan akhlak.
E. Hubungan Ilmu Jiwa dengan Ilmu Pendidikan
Semua
aspek pendidikan ditujukan pada tercapainya tujuan pendidikan yaitu banyak
berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Tujuan ilsafat ependidikan
islam yaitu terbentuknya seorang hamba allah yang patuh dan tunduk melaksanakan
segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya sert memiliki sifat-sifat
dan akhlak yang mulia. Rumusan ini sangat jelas menjelaskan bahwa Ilmu Akhlak
erat kaitanya pendidikan Islam.
BAB III
PENUTUP
3.1. kesimpulan
Pada pembahasan ini dapat kita simpulkan bahwa
hubungan Akhlak tasawuf sangat perlu kita pelajari, karena hal ini membahas
tentang tujuan tasawuf yaitu sebagai berikut:
- bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan dan intisari dari itu adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan cara mengasingkan diri dan berkontemplasi.
- Lebih menetahui tentang Tasawuf, yang merupakan salah satu ilmu yang tentu saja berhubungan dengan ilmu lainnya. Keterkaitan ini kadang-kadang dilihat dari persamaan objek, persamaan sudut pandang, persamaan sumber dan lain sebagainya.
3.2. Saran
Dengan pengetahuan tentang tasawuf
ini diharapkan agar kita senantiasa bertindak dan berprilaku yang seimbang
sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama islam supaya kita bisa selamat dunia
akhirat dan memperoleh kebahagiaan yang sejati.
Daftar Pustaka
1. Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter mulia,(jakarta:rajawali
pers,2015).
2. Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.:(Jakarta: kalam mulia,2009)
3. Harun nasution. Falsafah dan
mistisisme dalam islam, ( jakarta: bulan bintang, 1995)
4. Husnan
Malik. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika UNPAB
5. Sumaryono,Etika dan Hukum (Yogyakarta :kanisius,2006)
6. Mahjuddin. Akhlak tasawuf I.(jakarta: kalam mulia,2009 )
7.
Barmawy Umary.Materia Akhlak (Solo:
Ramadhani,1990)
8.
Ihsan Sanusi, Akhlak
tasawuf,(batusangkar:STAIN Batusangkar pres,2012),
9. Hamka,tasawuf modern,(Jakarta:pustaka panjimas,1990)
[1]
Pengarang buku Materia Akhlak, terbitan solo,1978.
[2]
Abuddin nata, Akhlak tasawuf dan karakter
mulia,(jakarta:rajawali pers,2015).h.154
[3]
Ihsan Sanusi, Akhlak tasawuf,(batusangkar:STAIN Batusangkar
pres,2012),h.92
[4]
Hamka,tasawuf modern,(Jakarta:pustaka panjimas,1990),h 12
[5]
Mahjuddin, Akhlak Tasawuf.:(Jakarta: Radar jaya offset, 2009) h. 65-67
[6]
Harun nasution. Falsafah dan
mistisisme dalam islam, ( jakarta: bulan bintang, 1995), h.57
[7] H.
Husnan Malik SH. Esensi Tauhid Dan Syirik Dalam Islam. Dosen Metafisika
UNPAB
[8] Ibid
[9]
Sumaryono,Etika dan Hukum (Yogyakarta :kanisius,2006),h. 243
[10] Ibid
[11]
Mahjuddin. Akhlak tasawuf I.(jakarta:
kalam mulia,2009 ) h.195
No comments:
Post a Comment