MAKALAH AQIDAH
AKHLAK
Pengertian, Makna dan manfaat Aqidah Akhlak
Diajukan
Untuk tugas Mata kuliah Aqidah Akhlak

Disusun
Oleh Kelompok : 1
Agus Rizal
Ade Irawan
Dosen Pembimbing:
M. Yusuf, SPd.I, M.Si
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
SYEKH BURHANUDDIN
PARIAMAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya MAKALAH Aqidah Akhlak .
Penulisan makalah ini adalah salah satu tugas mata kuliah Aqidah Akhlak. Dalam penulisan
makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan
maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Serta kami mengucapkan
terima kasih untuk pihak - pihak yang telah membantu kami. Semoga Allah SWT
memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan
baik secara langsung maupun tidak langsung, Amin yaa Robbal Alamin.
Pariaman, 4
maret 2017
penyusun
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehadiran agama Islam
yang dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan
manusia yang sejahtera lahir dan batin. Petunjuk-petunjuk agama mengenai
berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat di dalam sumber ajarannya,
Alquran dan Hadis, tampak amat ideal dan agung. Sedangkan akal pikiran sebagai
alat untuk memahami Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Ketentuan ini sesuai dengan agama
Islam itu sendiri sebagai wahyu yang berasal dari Allah SWT. Hal demikian
dinyatakan dalam Al-Qur’an yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu”.
Islam mengajarkan
kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi
kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial,
menghargai waktu, bersikap terbuka, demokratis, berorientasi pada kualitas dan
berakhlak mulia dan bersikap positif lainnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian aqidah akhlak?
2. Apa saja sumber dari akidah akhlak itu?
3. Bagaimana hubungan antara akidah dan akhlak?
4. Apa manfaat aqidah akhlak?
5. Bagaimana sistematika aqidah akhlak?
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Akidah Akhlak
Pengertian Aqidah
Aqidah berasal dari
bahasa Arab yang diambil dari kata dasar aqidatan yang berarti ikatan
atau pejanjian. Artinya sesuatu yang menjadi
tempat hati yang mana hati
terikat kepadanya.
Setelah berbentuk
aqidah maka maknanya menjadi keyakinan. Adapun pengertian aqidah secara istilah
berarti perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati sehingga menjadi
suatu kenyataan yang teguh dan
kokoh serta tidak ada keraguan dan kebimbangan
didalamnya.
Para ahli memberikan
definisi yang bermacam-macam mengenai
pengertian aqidah, diantaranya adalah sebagai berikut: 
·
Menurut Syaikh Thahir al-Jazairy
Aqidah Islamiyah
adalah perkara-perkara yang
diyakini oleh orang- orang muslim yang
berarti mereka teguh terhadap kebenaran perkara-perkara tersebut.
·
Menurut Hasan al-Banna
Aqidah adalah
beberapa perkara yang wajib
diyakini kebenarannya oleh hati,
menentramkan jiwa dan menjadikan keyakinan
yang tidak ada keraguan dan kebimbangan yang mencampurinya.
Aqidah adalah ilmu yang
mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap
orang di dunia. Alquran mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan
keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak
beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang
pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai
orang-orang kafir. Akhlak adalah perilaku yang
dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun
yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak
lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus
mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi larangan-Nya.
Akidah
adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi
manusia untuk berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Akan tetapi sebaliknya, akidah-akidah hasil rekayasa manusia berjalan sesuai
dengan langkah hawa nafsu manusia dan menanamkan akar-akar egoisme dalam
sanubarinya.
Akhlak mendapatkan perhatian
istimewa dalam akidah Islam.
Rasulullah saww bersabda:
بُعِثْتُ
ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ
(Aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia).
Dalam hadis lain beliau
bersabda: “Akhlak yang mulia adalah setengah dari agama”. Salah seorang sahabat bertanya
kepada belaiu: “Anugerah apakah yang paling utama yang diberikan kepada seorang
muslim?” Beliau menjawab: “Akhlak yang mulia”
Islam menggabungkan antara
agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini, agama menganjurkan setiap
individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai kewajiban (taklif) di
atas pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya. Atas dasar
ini, agama tidak mengutarakan wejangan-wejangan akhlaknya semata tanpa dibebani
oleh rasa tanggung jawab. Bahkan agama menganggap akhlak sebagai penyempurna
ajaran-ajarannya. Karena agama tersusun dari keyakinan (akidah) dan perilaku.
Dan akhlak mencerminkan sisi perilaku tersebut.
B. Sumber Akidah Akhlak
Sumber aqidah Islam
adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh Allah SWT dalam
Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya wajib diimani (diyakini dan
diamalkan).
Akal pikiran tidaklah
menjadi sumber akidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat
dalam kedua sumber tersebut dan mencoba kalau diperlukan membuktikan secara
ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, itu pun harus
didasari oleh kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan
terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau
masalah-masalah ghaib, bahkan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak
terikat dengan ruang dan waktu.[1]
Ilmu aqidah adalah ilmu
yang membahas keyakina manusia kepada Allah SWT. Ilmu aqidah disebut juga ilmu
tauhid. Kata tauhid berasal dari wahhada,yuwahhidu,tauiddan, artinya
mengesakan,atau mengi’tikadkan bahwa Allah Maha Esa.[2]
Oleh sebab itu akal tidak boleh dipaksa
memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang
hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran
si pembawa berita tentang hal-hal ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh
akal fikiran.
Sebagian ulama
menambahkan ijma’ sebagai sumber ajaran Islam ketiga setelah Al-Qu’an dan
sunah. Penjelasan dari sumber-sumber akidah akhlak yaitu sebagai berikut:
1. Al-Qur’an
Secara etimologis, Al-Qur`an adalah bentuk dari mashdar dari kata qara’a,
artinya bacaan, berbicara tentang apa yang tertulis padanya atau melihat dan
menelaah. Kata “Qur`an” digunakan dalam arti sebagai nama kitab suci
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an banyak menyinggung hal-hal
yang berkaitan dengan masalah –masalah ketuhanan.
Menurut bahasa Al-Qur’an memiliki arti bacaan. Menurut istilah Al-Qur’an
adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad secar lisan ,makna, dan
gaya bahasa (ushlub) yang termaktub dalam mushaf yang dinukil darinya secara
mutawatir .[3]
Arti Al-Qur`an secara terminologis ditemukan dalam bebrapa rumusan definisi
sebagai berikut:
1) Menurut Syaltut, Al-Qur`an adalah: Lafaz
Arabi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, dinukilkan kepada kita
secara mutawatir.
2) Al-Syaukani mengartikan Al-Qur`an: Kalam Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tertulis dalam mushaf, dinukilkan
secara mutawatir.
3) Definisi Al-Qur`an yang dikemukakan Abu Zahrah
ialah: Kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
4) Menurut Al Sarkhisi: Kitab yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw, ditulis dalam mushaf diturunkan dengan huruf yang tujuh yang
mansyur dan dinukilkan secara mutawatir.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang hakiki, diturunkan kepada
Rasulullah dari Lauh Mahfuz melalui malaikat Jibril dengan proses wahyu, yang berfungsi sebagai pedoman
bagi umat manusia.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian Al-Qur’an adalah perkataan Allah
yang hakiki, diturunkan kepada Rasulullah dengan proses wahyu, membacanya
termasuk ibadah, disampaikan kepada kita dengan jalan mutawaatir (jumlah orang
yang banyak dan tidak mungkin bersepakat untuk berbohong), dan terjaga dari
penyimpangan, perubahan, penambahan dan pengurangan. Dalam hal ini Allah
berfirman:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ
Artinya:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya". (Q.S. Al-Hijr: 9)[4]
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya". (Q.S. Al-Hijr: 9)[4]
Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim
berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya
agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala
perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Isi kandungan Al Qur’an, pada garis besarnya mengandung pokok-pokok ajaran
sebagai berikut:
a) Tuntunan yang berkaitan dengan keimanan atau
akidah, yaitu ketetapan yang berkaitan dengan iman kepada Allah SWT,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.
b) Tuntunan yang berkaitan dengan syari’ah, yaitu
hukum-hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan manusia, dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau alam sekitar.
c) Tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu
ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.
d) Tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni
shalat, puasa, zakat dan haji.
e) Tuntunan yang berkaitan dengan janji dan
ancaman, yakni seperti janji kepada orang-orang yang berbuat baik dan ancaman kepada orang-orang yang berbuat jahat atau dosa.
f) Tuntunan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan,
yakni informasi-informasi tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, langit,
bumi, matahari dan lain sebagainya.
g) Sejarah atau kisah-kisah masa lalu, seperti
kisah para nabi dan rasul, kisah orang-orang umat terdahulu.[5]
Keistimewaan dan
keutamaan Al-Quran dibandingkan dengan kitab lain
a) Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya untuk kesejahteraan manusia
segala zaman, tempat dan bangsa
b) Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengarihi jiwa pendengarnya
c) Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia
d) Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan
kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
e) Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
f) Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan
hukum-hukumnya.
g) Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta
membedakan manusia hanya dasi takwanya kepada Allah SWT.
2. As-Sunnah
As-Sunnah menurut
bahasa Arab, adalah ath-thariqah, yang berarti metode, kebiasaan, perjalanan
hidup, atau perilaku. Kata tersebut berasal dari kata as-sunan yang bersinonim
dengan ath-thariq (berarti "jalan"). Mengikuti sunnah berati
mengikuti cara Rasullulah bersikap, bertindak, berfikir dan memutuskan.[6]
Dalam sebuah hadits
disebutkan, "Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka
selain memperoleh pahala bagi dirinya, juga mendapat tambahan pahala dari orang
yang mengamalkan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.
Dan barang siapa melakukan sunnah yang jelek dalam Islam, maka selain
memperoleh dosa bagi dirinya, juga mendapat tambahan dosa dari orang yang
melakukan sesudahnya dengan tanpa mengurangi sedkitpun dosa mereka."
(HR Muslim).[7]
As-Sunnah sering disebut juga dengan hadits merupakan segala tingkah laku
Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir).
Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Allah SWT
telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang
disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Hal ini sejalan dengan
firman Allah SWT dalam potongan ayat Al-Hasyr: 7 sebagai berikut.
!$tBur ãNä39s?#uä ãAqß™§9$# çnrä‹ã‚sù $tBur öNä39pktX çm÷Ytã (#qßgtFR$$sù 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ( ¨bÎ) ©!$# ߉ƒÏ‰x© É>$s)Ïèø9$# ÇÐÈ
Artinya:
“Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu,
Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras
hukumannya”. (QS Al Hasyr : 7)
Hal ini ditegaskan pula
dalam Al-Qur’an:
ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ
Artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-ahzab:21) [8]
Perintah meneladani Rasulullah SAW ini disebabkan seluruh perilaku Nabi
Muhammad SAW mengandung nilai-nilai luhur dan merupakan cerminan akhlak mulia.
Apabila seseorang bisa meneladaninya maka akan mulia pula sikap dan
perbutannya. Hal tersebut dikarenakan Rasulullah SAW memilki akhlak dan budi pekerti
yang sangat mulia.
Artinya: “Aku tinggalkan dua perkara untukmu seklian, kalian tidak akan
sesat selama kalian berpegangan kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunah
rasulnya”. (HR Imam Malik)
Beberapa ayat Al-Qur’an memerintahkan agar umat Islam yang beriman
berpegang teguh pada As-sunnah sebagai cermin dari ketaatan kepada Rasulullah
SAW yang juga merupakan cermin utama dari ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu
ayat Allah yang menjelaskan mengenai hal ini adalah surat An-nisa ayat 59.
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqß™§9$# ’Í<'ré&ur ÍöDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqß™§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î ÏQöqu‹ø9$#ur ÌÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù's? ÇÎÒÈ
Artinya:
“Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu
benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
Dikatakan As-Sunnah sebagai wahyu kedua setelah Al-Qur’an
karena alasan-alasan berikut:
1.
Allah SWT menetapkan
Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir.
2.
Allah SWT menetapkan
Muhammad SAW membawa risalah-risalah-Nya.
3.
Allah SWT menetapkan
Muhammad SAW terbebas dari kesalahan ketika berkaitan dengan kerasulannya.
Rasulullah SAW di ma’shum sehingga apapun yang disampaikannya bukan
berasal dari hawa nafsu, melainkan sebagai wahyu yang dikaruniakan Allah SWT.
4.
Karena Al-Qur’an
memberikan penjelasan bahwa hak untuk menjelaskan makna-makna Al-Qur’an kepada
umat manusia berada ditangan Rasulullah SAW.
As-sunnah merupakan sumber hukum Islam yang kedua memilki fungsi sebagai
berikut.
1.
Memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al Qur’an, sehingga
keduanya (Al Qur’an dan Hadits) menjadi sumber hukum untuk satu hal yang sama.
2.
Memberikan rincian dan penjelasan terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang masih
bersifat umum.
3. Ijma’ Para Ulama
Ijma’ dalam pengertian
bahasa memiliki dua arti. Pertama, berupaya (tekad) terhadap sesuatu. Ijma’ adalah sumber aqidah yang berasal dari
kesepakatan para mujtahid umat Muhammad SAW setelah beliau wafat, tentang
urusan pada suatu masa. Mereka bukanlah orang yang sekedar tahu tentang masalah
ilmu tetapi juga memahami dan mengamalkan ilmu. Berkaitan dengan Ijma’, Allah
SWT berfirman:
`tBur È,Ï%$t±ç„ tAqß™§9$# .`ÏB ω÷èt $tB tû¨üt6s? ã&s! 3“y‰ßgø9$# ôìÎ6Ftƒur uŽöxî È@‹Î6y™ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ¾Ï&Îk!uqçR $tB 4’¯<uqs? ¾Ï&Î#óÁçRur zN¨Yygy_ ( ôNuä!$y™ur #·ŽÅÁtB ÇÊÊÎÈ
Artinya:
“Dan
barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (Q.S An Nisaa:115)[10]
Imam Syafi’i
menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil pembolehan disyariatkannya ijma’,
yaitu diambil dari kalimat “jalannya orang-orang yang beriman” yang berarti
ijma’. Beliau juga menambahkan bahwa dalil ini adalah dalil syar’i yang wajib
untuk diikuti karena Allah menyebutkannya secara bersamaan dengan larangan
menyelisihi Rasul.
Didalam pengambilan
ijma’ terdapat juga beberapa kaidah-kaidah penting yang tidak boleh
ditinggalkan. Ijma’ dalam masalah aqidah harus bersandarkan kepada dalil dari
Al-Qur an dan Sunnah yang shahih karena perkara aqidah adalah perkara
tauqifiyah yang tidak diketahui kecuali dengan jalan wahyu. Sedangkan fungsi
ijma’ adalah menguatkan Al Quran dan Sunnah serta menolak kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam dalil yang dzoni sehingga menjadi qotha’i.
Makna Aqidah Akhlak
C. Hubungan Akidah dengan Akhlak
Akidah adalah gudang
akhlak yang kokoh. Ia mampu menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk
berpegang teguh kepada norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Akhlak
mendapatkan perhatian istimewa dalam akidah Islam.
Rasulullah SAW bersabda
yang artinya:“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”
Islam menggabungkan
antara agama yang hak dan akhlak. Menurut teori ini agama menganjurkan setiap
individu untuk berakhlak mulia dan menjadikannya sebagai kewajiban (taklif) diatas
pundaknya yang dapat mendatangkan pahala atau siksa baginya. Atas dasar ini
agama tidak mengutarakan akhlak semata tanpa dibebani rasa tanggung jawab.
Bahkan agama menganggap akhlak sebagai penyempurna ajaran-ajarannya. Karena
agama tersusun dari keyakinan (akidah) dan perilaku.
Oleh karena itu akhlak
dalam pandangan Islam harus berpijak pada keimanan. Iman tidak cukup hanya
disimpan dalam hati, namun harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dalam
bentuk akhlak yang baik.[11]
Menurut Mahmud Syaltut, tidak diragukan lagi bahwa untuk memperguanakan dan
menjalankan bagian aqidah dan ibadah perlu pula berpegang kuat dan tekun dalam
mewujudkan bagian lain yang disebut dengan bagian akhlak. Sejarah risalah
ketuhanan dalam seluruh prosesnya telah membuktikan bahwa kebahagiaan di
segenap lapangan hanya diperoleh dengan menempuh budi pekerti (berakhlak
mulia).
Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddiequ di dalam bukunya Al Islam
mengatakan:
Kepercayaan dan Budi pekerti dalam pandangan Al-Qur’an hampir dihukum satu,
dihukum setaraf, sederajat. Lantaran demikianlah Tuhan mencurahkan kehormatan
kepada akhlak dan membesarkan kedudukannya. Bahkan Allah memerintahkan seorang
muslim memelihara akhlaknya dengan kata-kata perintah yang pasti, terang, dan
jelas. Para muslim tidak dibenarkan sedikit juga menyia-nyiakan akhlaknya,
bahkan tak boleh memudah-mudahkannya.
Akidah tanpa akhlak adalah seumpama sebatang pohon yang tidak dapat
dijadikan tempat berlindung di saat kepanasan dan tidak pula ada buahnya yang
dapat dipetik. Sebaliknya akhlak tanpa akidah hanya merupakan layang-layaang
bagi benda yang tidak tetap, yang selalu bergerak. Oleh karena itu Islam
memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan akhlak.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang terletak pada
kesempurnaan dan kebaikan akhlaknya. Sabda beliau: “Orang mukmin yang paling
sempurna imannya ialah mereka yang paling bagus akhlaknya”. (HR. Muslim)
Dengan demikian, untuk melihat kuat atau lemahnya iman dapat diketahui
melalui tingkah laku (akhlak) seseorang, karena tingkah laku tersebut merupakan
perwujudan dari imannya yang ada di dalam hati. Jika perbuatannya baik,
pertanda ia mempunyai iman yang kuat; dan jika perbuatan buruk, maka dapat
dikatakan ia mempunyai Iman yang lemah. Muhammad al-Gazali mengatakan, iman
yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedang iman yang lemah
mewujudkan akhlak yang jahat dan buruk.
Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa iman yang kuat itu akan
melahirkan perangai yang mulia dan rusaknya akhlak berpangkal dari lemahnya
iman. Orang yang berperangai tidak baik dikatakan oleh Nabi sebagi orang yang
kehilangan iman. Beliau bersabda:
الحياء والايمان قرناء جميعا فاذا رفع احدهما رفع
الاخر (رواه الكاريم)
”Malu dan iman itu keduanya bergandengan, jika hilang
salah satunya, maka hilang pula yang lain”. (HR. Hakim)
Kalau kita perhatikan hadits di atas, nyatalah bahwa rasa malu sangat
berpautan dengan iman hingga boleh dikatakan bahwa tiap orang yang beriman
pastilah ia mempunyai rasa malu; dan jika ia tidak mempunyai rasa malu, berarti
tidak beriman atau lemah imannya.
Akidah erat hubungannya
dengan akhlak. Akidah merupakan landasan dan dasar pijakan untuk semua
perbuatan. Akhlak adalah segenap perbuatan baik dari seorang mukalaf, baik
hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan hidupnya. Berbagai
amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan terkontrol dari berbagai
penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan akidah yang kuat. Oleh sebab itu,
keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya antara jiwa dan raga.
Hal ini dipertegas oleh
Allah dalam Al-Qur’an yang mengemukakan bahwa orang-orang yang beriman yang
melakukan berbagai amal shaleh akan memperoleh imbalan pahala disisi-Nya. Dia
akan dimasukkan ke dalam surga firdaus. Penegasan ini dikemukakan dalam firman
Allah sebagai berikut:
¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ôMtR%x. öNçlm; àM»¨Zy_ Ĩ÷ryŠöÏÿø9$# »wâ“çR ÇÊÉÐÈ tûïÏ$Î#»yz $pkŽÏù Ÿw tbqäóö7tƒ $pk÷]tã ZwuqÏm ÇÊÉÑÈ
Artinya:
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus
menjadi tempat tinggal, Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah
dari padanya. (QS. Al-kahfi:
107-108)
Ayat di atas memperlihatkan betapa pentingnya akidah dan
akhlak, dengan keterpaduan keduanya seseorang akan memperoleh pahala yang besar
disisi Allah dengan jaminan surga Firdaus.
Hubungan antara akidah
dan akhlak ini tercermin dalam pernyataan Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra yang artinya:
“dari Abu Hurairah,
Rasulullah SAW bersabda,’orang mukmin yang sempurna imannya ialah yang terbaik
budi pekertinya”
Akidah sebagai dasar
pendidikan akhlak “Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah
yang benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah
dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar,
niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika
aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah.
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang berhubungan dengan aqidah.
Jujur dapat terwujud apabila seseorang telah memegang konsep-konsep yang
berhubungan dengan aqidah. Dengan dijalankannya konsep-konsep aqidah tersebut
maka seseorang akan memiliki akhlak yang baik. Sehingga orang akan takut dalam
melakukan perbuatan dosa.
Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa
menjalankan ibadah dengan baik dan benar, dengan itu ia akan mampu
mengimplementasikan tauhid ke dalam akhlak yang mulia (Akhlakul Karimah).
Karena barang siapa mengetahui Sang Penciptanya dengan benar, niscaya ia akan
dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah Allah. Sehingga ia tidak
mungkin menjauh atau bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah
ditetapkan-Nya.
D. Ruang Lingkup Akidah Akhlak
1. Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala
susuatu yang berhubungan dengan Tuhan (Allah), seperti wujud Allah, sifat Allah
dll
2. Nubuwat, yaitu pembahsan tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, pembicaraan mengenai
kitab-kitab Allah dll
3. Ruhaniyat, yaitu tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan alam metafisik seperti jin, iblis, setan, roh dll
4. Sam'iyyat, yaitu pembahasan tentang segala
sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'i, yakni dalil Naqli berupa
Al-quran dan as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan Azab Kubur,
tanda-tanda kiamat, Surga-Neraka dsb.
E. Objek Akidah Akhlak
Kalau kita berbicara mengenai Objek Akidah Akhlak kita harus mengetahui dulu
apa itu objek, objek adalah suatu yang terkena akibat dari proses akidah akhlak
tersebut yang tentu saja mengarah kepada manusia bagaimana membentuk manusia
yang mempunyai akidah dan akhlak yang baik, baik terhadap manusia yang lain
maupun dengan Tuhanya.
F. Manfaat Akidah Akhlak
Akhlak memperoleh perhatian
khusus dalam ajaran-ajaran akidah Islam. Dengan ini, dalam usaha membentuk
manusia berakhlak mulia dan terselamatkan dari dekadensi moral, akidah
mengikuti metode-metode yang beraneka ragam demi mencapai hal itu. Metode-metode
tersebut antara lain:
1. Menjanjikan Pahala Ukhrawi
bagi Orang yang Berakhlak Mulia.
Akidah menjanjikan pahala yang
besar dan derajat yang tinggi di akhirat kelak bagi orang yang berakhlak mulia,
dan siksa yang pedih bagi orang yang berakhlak tidak terpuji dan menyembah hawa
nafsunya.
Rasulullah saww bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيْمَ دَرَجَاتِ اْلآخِرَةِ وَشَرَفِ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لَضَعِيْفُ الْعِبَادَةِ
(Seorang hamba dengan
akhlaknya yang mulia bisa mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang
mulia kendatipun sedikit ibadahnya).
Dalam hadis yang lain beliau
bersabda:
إِنَّ
حَسَنَ الْخُلُقِ يَبْلُغُ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
(Orang yang berakhlak terpuji
dapat menyamai derajat orang yang berpuasa dan shalat malam).
Beliau berwasiat kepada Bani
Abdul Muthalib:
يَا
بَنِي عَبدِ الْمُطَّلِبِ، أَفْشُوا السَّلاَمَ وَصِلُوا اْلأَرْحَامَ
وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَطَيِّـبُوا الْكَلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ
(Wahai Bani Abdul Muthalib, sebarkanlah salam, sambunglah tali kekerabatan, berilah makan (kepada orang-orang fakir) dan bertutur katalah yang baik, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat).
(Wahai Bani Abdul Muthalib, sebarkanlah salam, sambunglah tali kekerabatan, berilah makan (kepada orang-orang fakir) dan bertutur katalah yang baik, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat).
2. Menjelaskan Efek-efek Duniawi
Akhlak.
Seseorang yang berakhlak
terpuji akan mampu beradaptasi dengan sesamanya, hidup bahagia, tentram dan
melangkah dengan mantap. Adapun orang yang tidak memiliki nilai dan
prinsip-prinsip moral, ia akan jatuh dalam jurang kegelapan, hidup dalam
kecemasan dan kebingungan sehingga dirinya tersiksa, tidak disenangi oleh
sesamanya dan akhirnya akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan yang tidak
memiliki akibat yang terpuji.
Rasulullah saww bersabda:
حُسْنُ الْخُلُقِ
يُثَبِّتُ الْمَوَدَّةَ
(Akhlak yang terpuji dapat
melanggengkan kecintaan).
Imam Ali a.s. berkata:
... وَفِي سَعَةِ اْلأَخْلاَقِ كُنُوْزُ اْلأَرْزَاقِ
(...Dan dalam akhlak yang
mulia tersembunyi simpanan-simpanan rizki).
Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:
وَإِنْ شِئْتَ أَنْ
تُكْرَمَ فَلِنْ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تُهَانَ فَاخْشُنْ
(Jika engkau ingin dihormati,
maka berlemah lembutlah dan jika kau ingin dihina, maka bersikaplah kasar).[12]
G. Sistematika Akidah Akhlak
Gambar tersebut merupakan
sistematika akidah akhlak yang digambarkan melalui pohon. Disamping sistematika
diatas, pembahasan akidah bisa juga mengikuti sistematika Arkanul iman yaitu :
1. Iman kepada Allah
Pengertian
iman kepada Allah ialah:
·
Membenarkan dengan yakin akan adanya
Allah
·
Membenarkan dengan yakin
keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam, makhluk seluruhnya,
maupun dalam menerima ibadat segenap makhluknya.
·
Membenarkan dengan yakin, bahwa
Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari sifat kekurangan yang
suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk).
Dengan
demikian setelah kita mengimani Allah, maka kita membenarkan segala perbuatan
dengan beribadah kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala
larangannya, mengakui bahwa Allah swt. bersifat dari segala sifat, dengan
ciptaan-Nya di muka bumi sebagai bukti keberadaan, kekuasaan, dan kesempurnaan
Allah.
2. Iman Kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk yang
dinamai “malaikat” yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa
melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih
tegas, iman akan malaikat ialah beritikad adanya malaikat yang menjadi
perantara antara Allah dengan rasul-rasul-Nya, yang membawa wahyu kepada
rasul-rasul-Nya.
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
3. Iman kepada kitab-kitab Allah
Keyakinan kepada kitab-kitab suci
merupakan rukun iman ketiga. Kitab-kitab suci itu memuat wahyu Allah. Beriman
kepada kitab-kitab Tuhan ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan beberapa
kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun yang berhubungan
dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup manusia. baik untuk
akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara individu maupun masyarakat.
Jadi, yang
dimaksud dengan mengimani kitab Allah ialah mengimani sebagaimana yang
diterangkan oleh Al-Qur’an dengan tidak menambah dan mengurangi. Kitab-kitab
yang diturunkan Allah telah turun berjumlah banyak, sebanyak rasulnya. Akan
tetapi, yang masih ada sampai sekarang nama dan hakikatnya hanya Al-Qur’an.
Sedangkan yang masih ada namanya saja ialah Taurat yang diturunkan kepada Nabi
Musa, Injil kepada Nabi Isa dan Zabur kepada Daud.
4. Iman kepada Nabi dan Rasul
4. Iman kepada Nabi dan Rasul
Yakin pada
para Nabi dan rasul merupakan rukun iman keempat. Perbedaan antara Nabi dan
Rasul terletak pada tugas utama. Para nabi menerima tuntunan berupa wahyu, akan
tetapi tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu itu kepada umat
manusia. Rasul adalah utusan (Tuhan) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang
diterima kepada umat manusia.
5. Iman kepada hari Akhir
Rukun iman
yang kelima adalah keyakinan kepada hari akhir. Keyakinan ini sangat penting
dalam rangkaian kesatuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari
akhirat sama halnya dengan orang yang tidak mempercayai agama Islam, itu
merupakan hari yang tidak diragukan lagi.
6. Iman kepada qada dan qadar
Dalam
menciptakan sesuatu, Tuhan selalu berbuat menurut Sunnahnya, yaitu hukum sebab
akibat. Sunnahnya ini adalah tetap tidak berubah-ubah, kecuali dalam hal-hal
khusus yang sangat jarang terjadi. Sunnah Tuhan ini mencakup dalam ciptaannya,
baik yang jasmani maupun yang bersifat rohani.
Makna
qadar dan takdir ialah aturan umum berlakunya hukum sebab akibat, yang
ditetapkan olehnya sendiri. [13]
H. TUJUAN PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK
Tujuan dari pembelajaran Aqidah Akhlak adalah untuk :
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian,
pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,pengamalan, pembiasaan,
serta pengalaman tentang aqidah islam sehingga menjadi manusia muslim yang
terus berkembang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.
b. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak
mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehiduupan sehari-hari , baik dalam
kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan
nilai-nilai aqidah islam.
I. NILAI-NILAI PEMBELAJARAN AQIDAH ISLAM
Adapun untuk nilai-nilai
akhlak yang dikembangkan di sekolaah/madrasah adlah:
a. Berhati lembut, bekrja keras , tekun dan ulet ,
b. Terbiasa berfikir kritis, sedderhana, sportif
dan bertanggung jawab.
c. Terbiasa berprilaku Qana’ah, toleran, dan
beretika dalam pergaulan sehari-hari.
Jadi akhlak merupakan hal yang sangat penting dalam islam. Seseorang akan
mendapat nilai dari caranya bertingkah laku dari akhlaknya[14]
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan
Sumber aqidah Islam
adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh Allah SWT dalam
Al-Qur’an dan oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya wajib diimani (diyakini dan
diamalkan). Sebagian ulama menambahkan ijma’ sebagai sumber ajaran Islam ketiga
setelah Al-Qu’an dan sunah.
Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang hakiki, diturunkan kepada
Rasulullah dengan proses wahyu, membacanya termasuk ibadah, disampaikan kepada
kita dengan jalan mutawaatir (jumlah orang yang banyak dan tidak mungkin
bersepakat untuk berbohong), dan terjaga dari penyimpangan, perubahan,
penambahan dan pengurangan.
Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang utama. Setiap muslim
berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya
agar menjadi manusia yang taat kepada Allah SWT, yaitu menngikuti segala
perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
As-Sunnah sering disebut juga dengan hadits merupakan segala tingkah laku
Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (taqrir).
Hadits merupakan sumber hukum Islam yang kedua setelah Al Qur’an. Allah SWT
telah mewajibkan untuk menaati hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan yang
disampaikan oleh nabi Muhammad SAW dalam haditsnya.
Akidah erat hubungannya
dengan akhlak. Akidah merupakan landasan dan dasar pijakan untuk semua
perbuatan. Akhlak adalah segenap perbuatan baik dari seorang mukalaf, baik
hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan hidupnya. Berbagai
amal perbuatan tersebut akan memiliki nilai ibadah dan terkontrol dari berbagai
penyimpangan jika diimbangi dengan keyakinan akidah yang kuat. Oleh sebab itu,
keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti halnya antara jiwa dan raga.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid, S. M. (2012). pendidikan
karakter perspektif islam. bandung: pt remaja rosdakarya.
Amudidin.
(2006). Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Graha Ilmu.
Anwar, A. R.
(2012). Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka setia.
Anwar, R.
(2008). Akidah Akhlak . Bandung: Pustaka Setia.
Drs. M. Yatimin
Abdullah, M. A. (2007). Studi Akhlak dalam Persepektif Al-Qur’an.
Jakarta: Amzah.
Drs. Muhammad
Alim, M. A. ( 2006). Pendidikan Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Ilyas, Y.
(2010). Kuliah aqidah islam. Yogjakarta: LPPI.
Rohman, R. A.
(2007). Akidah dan Akhlak. Bengkulu: Tiga Serangkai.
Saebani, B. A. Ilmu
akhlak. Bandung: Pustaka Setia.
Suhendi, H.
(2011). Akidah Akhlak. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Syarifuddin, P.
D. (2011). garis-garis besar akidah akhlak. jakarta: kencana.
[1] Yunahar Ilyas
.2010 .Kuliah aqidah islam.Yogjakarta : LPPI .Hal. 6
[4] Beni Ahmad
Saebani, et.al., Ilmu akhlak, (Bandung: Pustaka Setia, Tth). Hal 51
[5] Drs.
Muhammad Alim, M. Ag, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, 2006). Hal. 181
[8] Drs. M. Yatimin Abdullah, M. A, Studi Akhlak dalam Persepektif
Al-Qur’an, ( Jakarta: Amzah, 2007). Hal. 4-5
[12] Suhendi, Hendi. Akidah
Akhlak. Jakarta:
PT. Rajagrafindo Persada. 2011. Cetakan ke-7. Hal 125-135.
[14] Abdul Majid, S.ag, M.Pd,
Dian Handayani, S.Pd, M.Pd, pendidikan karakter perspektif islam,(bandung:pt
remaja rosdakarya 2012),h.169
terimakasih,, sangant bermanfaat
ReplyDeleteTrimakasih ..
ReplyDeleteHanupis...
ReplyDelete