MAKALAH
PENGERTIAN,TUJUAN,DASAR DAN KARAKTERISTIK PAI
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah
Kurikulum PAI di SMP dan SMA
Oleh:
KELOMPOK VI
Nama kelompok:
Agus Rizal
Permasuri
Dosen Pengampu
Drs. Zulkifli Ali,
M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH SYEKH BURHANUDDIN
(STIT- SB) PARIAMAN
T. A 2016/2017
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji dan rasa syukur mendalam
kehadirat Allah SWT, dengan semua rahmat dan nikmat yang di berikan sehingga Insyaallah Makalah ini bisa selesai dan
tersusun sebagaimna mestinya. Shalawat dan salam senantiasa penulis haturkan
kepada junjungan Nabi Muhammad SAW ,
karena semangat dakwah beliau lah sehingga sampai saat ini semua manusia
terkhusus umat muslim dari berbagai daerah di seluruh dunia bisa merasakan
dampak positif dari ajaran- ajaran yang telah disampaikan serta dapat
mengamalkan sunnah-sunnahnya.
Adapun maksud dan tujuan dari
penyusunan makalah ini diantaranya untuk membantu, memahami dan mengetahui
lebih jelas mengenai Pendidikan Agama Isalam.
Dengan penuh kesadaran dan kekhilafan bahwa makalah
ini masih jauh dari sempurna, dengan itu tentunya penyusun sadar. Olehnya demi mendapatkan hasil
yang paling baik, maka penyusun berharap kritik dan saran dari pembaca, juga melalui kesempatan yang lebih banyak
lagi mudah-mudahan penyusun dapat melakukan revisi dalam perbaikan dan penyusunan
kembali buku ini agar dapat di sajikan dalam bentuk yang lebih sempurna
Terimakasih
Pariaman, 18
November 2017
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Pendidikan Islam sebagai proses
pengembangan potensi kreatifitas peserta didik, bertujuan mewujudkan manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dalam tujuan ini manusia diharapkan
dapat mewujudkan suatu harapan yang menjadi titik, goal dan hasil yang
akan dituju dengan jalan atau cara beserta kaidah sesuai ajaran Islam. Dalam setiap tindakan aktivitas harus
berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetepkan. Ini menunjukkan
bahwa tujuan pendidikan harus berorientasi pada sebuah materi. Maka itulah,
tujuan pendidikan Islam menjadi komponen-komponen pendidikan yang baru.
B. Rumusan dan Batasan Masalah
- Pengertian PAI?
- Tujuan PAI?
- Dasar PAI?
- Karakteristik PAI?
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian, Tujuan, Dasar dan Karakteristik Pendidikan Agama Islam
A. Pengertian Pendidikan Islam
Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam
konteks Islam inheren dengan konotasi istilah “tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib”
yang harus dipahami secara bersama-sama. Ketiga istilah ini mengandung makna
yang mendalam menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam
hubungannya dengan Tuhan saling berkaitan satu sama lain. Istilah-istilah itu
pula sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam: informal, formal dan
non formal.
Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai suatu
proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan
dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di
dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Dari berbagai literatur terdapat berbagi macam pengertian
pendidikan Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy, pendidikan Islam adalah
mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah
air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi,
perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.
Sedang Ahmad D. Marimba memberikan pengertian bahwa
pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum
islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.
Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pendidikan
adalah suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada
metode dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses
dan kandungan pendidikan tersebut.
Dari definisi dan pengertian itu ada tiga unsur yang
membentuk pendidikan yaitu adanya proses, kandungan, dan penerima. Kemudian
disimpulkan lebih lanjut yaitu ” sesuatu yang secara bertahap ditanamkan ke
dalam diri manusia”.
Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan
pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia,
tentang tempattempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan
penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan
yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
Jadi pendidikan ini hanyalah untuk manusia saja. Kembali kepada definisi pendidikan
Islam yang menurut Al-Attas diperuntutukan untuk manusia saja. menurutnya
pendidikan Islam dimasukkan dalam At-ta’dib, karena istilah ini paling tepat
digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan itu, sementara istilah
tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mancakup juga
pendidikan kepada hewan. Menurut Al-Attas Adabun berarti pengenalan dan
pengakuan tentang hakikat bahwa pengetahuan dan wujud bersifat teratur secara
hierarkis sesuai dengan beberapa tingkat dan tingkatan derajat mereka dan
tentang tempat seseorang yang tepat dalam hubungannya dengan hakikat itu serta
dengan kepastian dan potensi jasmaniah, intelektual, maupun rohaniah seseorang.
Dari pengertian Al-Attas tersebut dibutuhkan pemahaman yang
mendalam, arti dari pengertian itu adalah, “pengenalan” adalah menemukan tempat
yang tepat sehubungan denagn apa yang dikenali, sedangkan “pengakuan” merupakan
tindakan yang bertalian dengan pengenalan tadi. Pengenalan tanpa pengakuan
adalah kecongkakan, dan pengakuan tanpa pengenalan adalah kejahilan belaka.
Dengan kata lain ilmu dengan amal haruslah seiring. Ilmu tanpa amal maupun amal
tanpa ilmu adalah kesia-siaan. Kemudian tempat yang tepat adalah kedudukan dan
kondisinya dalam kehidupan sehubungan dengan dirinya, keluarga, kelompok,
komunitas dan masyarakatnya, maksudnya dalam mengaktualisasikan dirinya harus
berdasarkan kriteria Al-Quran tentang ilmu, akal, dan kebaikan (ihsan) yang
selanjutnya mesti bertindak sesuai dengan ilmu pengetahuan secara positif,
dipujikan serta terpuji.[1]
B. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan Pendidikan Islam menurut Abdurrahman Shaleh Abdullah dan Imam Al-Ghozali
Tujuan Pendidikan Islam menurut
Abdurrahman Shaleh Abdullah dan Imam Al-Ghozali adalah sebagai berikut:
- Menurut Abdurrahman Shaleh Abdullah
Bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk kepribadian
sebagai khalifah Allah SWT atau sekurang-kurangnya mempersiapkan ke jalan yang
mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah SWT adalah beriman
kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada-Nya. Selanjutnya tujuan
pendidikan Islam menurutnya dibangun atas 3 komponen: tubuh, ruh, dan akal.
Berdasarkan hal tersebut, maka tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan
kepada:
a. Tujuan
Pendidikan Jasmani
Pendidikan Islam
dalam hal ini mengacu pada pembicaraan fakta-fakta terhadap jasmani yang
relevan bagi para pelajar.
b. Tujuan
Pendidikan Rohani
Tujuan pendidikan
Islam harus mampu membawa dan mengembalikan ruh tersebut kepada kebenaran dan
kesucian.
c. Tujuan
Pendidikan Akal
Tujuan ini
mengarahkan kepada perkembangan intelegensi yang mengarahkan setiap manusia
sebagai individu untuk dapat menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya.
d. Tujuan
Sosial
Fungsi pendidikan
dalam mewujudkan tujuan sosial adalah menitik beratkan pada perkembangan
karakter-karakter manusia yang unik, agar manusia mampu beradaptasi dengan
standar-standar masyarakat bersama-sama dengan cita-cita yang ada padanya.
Keharmonisan menjadi karakteristik utama yang ingin dicapai dalam tujuan
pendidikan Islam.
Sedangkan tujuan
akhir pendidikan Islam versi Abdurrahman adalah mewujudkan manusia ideal
sebagai ‘Abid Allah atau ‘Ibad Allah, yang tunduk secara total kepada Allah
SWT.
- Menurut Imam Al-Ghozali
Al-Ghozali, sebagaimana yang dikutip
oleh Fatiyah Hasan Sulaiman menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam dapat
diklasifikasikan kepada:
a.
Membentuk insan sempurna yang pada akhirnya dapat mendekatkan
diri kepada Allah SWT.
b.
Membentuk insan purna untuk memperoleh kebahagiaan, baik di
dunia maupun di akhirat.
Dari kedua tujuan
diatas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan versi Al-Ghozali tidak hanya
bersifat ukhrowi (mendekatkan diri kepada Allah), sebagaimana yang dikenal
dengan kesufiannya, tetapi juga bersifat duniawi. Karena itu Al-Ghozali memberi ruang
yang cukup luas dalam sistem pendidikannya bagi perkembangan duniawi. Namun,
dunia hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat
yang lebih utama dan kekal.
Pemikiran Al-Ghozali di atas dapat
difahami dari landasan berfikir dan berpijak dengan Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an
banyak ayat yang menyatakan agar manusia tidak terlena dengan kehidupan dunia,
sementara akhirat adalah tempat kembali yang kekal. Allah berfirman:
بَÙ„ْ تُؤْØ«ِرُونَ الْØَÙŠَاةَ الدُّÙ†ْÙŠَا . ÙˆَالآخِرَØ©ُ Ø®َÙŠْرٌ ÙˆَØ£َبْÙ‚َÙ‰
Artinya: “Tetapi
kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi (16) sedang kehidupan
akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal (17).” (A.Q. Al-A’la: 16-17)
Dalam mencermati ayat di atas, Ibn
Khaldun terinspirasi untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam, sebagai mana
yang di kutip oleh Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, kepada:
- Tujuan yang berorientasi akhirat, yaitu membentuk hamba- hamba Allah yang dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.
- Tujuan yang berorientasi dunia, yaitu membentuk manusia- manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat bagi rang lain.[2]
C. Dasar Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Dasar Pendidikan Islam
Landasan adalah merupakan dasar atau fondasi tempat berpijak
yang baik dalam setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang disengaja untuk
mencapai suatu tujuan,
Fungsi dari landasan atau dari pendidikan Islam tersebut
adalah seperti fondasi yang akan mengokohkan berdirinya suatu bangunan.
Sehingga dengan demikian usaha kegiatan tersebut benar-benar mempunyai dasar
keteguhan dan keyakinan dalam mencapai tujuan.[3]
2. Dasar-Dasar Pendidikan Islam Menurut Al Quran
Al Quran adalah sumber agama Islam
pertama dan utama. Al Quran yang menjadi
sumber nilai dan norma umat Islam itu terbagi dalam 30 juz (bagian),114 surah (surat:bab)
lebih dari 6000 ayat, 74.499 kata atau 325.345 huruf (ataulebih tepatdikatakan
325.345 suku kata kalau dilihat dari sudut pandang bahasa Indonesia).[4]
Tidak diragukan lagi, Al Qur’an sebagai dasar pertama, di
dalamnya berisi firman-firman Allah SWT yang disampaikan melalui Malaikat
Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Kebenarannya tidak dapat diragukan lagi,
terutama sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Al Qur’an di dalamnya
terkandung ajaran pokok yang prinsip, yaitu menyangkut bidang aqidah yang harus
diyakini dan menyangkut dengan amal yang disebut syari’ah.
Di dalam Al Qur’an banyak dijelaskan ajaran-ajaran yang
berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan ini. Sebagai contoh dapat
dibaca kisah Luqman mengajari anaknya dalam surat AL Luqman ayat 12 sampai
dengan ayat 19. Dalam ayat tersebut terdapat 5 azas pendidikan yaitu yang
berkenaan dengan :
a. Azas
Pendidikan Tauhid
b. Azas
Pendidikan akhlaq kepada orang tua dan masyarakat
c. Azas
Pendidikan amar ma’ruf nahi munkar
d. Azas
Pendidikan kesabaran dan ketabahan
e. Azas
Pendidikan sosial kemasyarakatan (tidak boleh sombong)
Pendidikan, karena termasuk ke dalam
usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup
muamalah. Pendidikan sangat penting karena ia ikut menentukan corak dan
bentuk amal dan kehidupan manusia, baik
pribadi maupun masyarakat. Didalam al-Quran terdapat banyak ajaran yang berisi
prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu sendiri.[5]
Sekedar contoh, misalnya mengenai proses pembentukan manusia untuk Fakultas
Kedokteran yang terjemahannya( lebih kurang) sebagai berikut,”Dialah (Allah)
yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari mani yang menjadi segumpal
darah. Kemudian
Dialah yang mengeluarkan kamu ( dari rahim wanita ) menjadi bayi sehingga kamu
dewasa dan menjadi tua…” (QS. Al Mukmin (40) kalimat pertama ayat 67 ). Dan,
kalau manusia ciptakan Allah itu sakit, Allah lah yang menyembuhkannya,
demikian maksud surat asy-Syu’ara (26):80.
Dalam Al-Quran banyak ditemukan
dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan
umat manusia. Bahkan, Al-Quran yang
pertama turun pun mengisyaratkan pentingnya strategi dalam mencari ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan cara membaca alam ciptaan Allah. Dorongan untuk menguasai
iptek, antara lain disebutkan dalam ayat-ayat berikut: “Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa
yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta?
Hanya orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran. (QS. Ar-Ra’d/13:19).
Dalam Firman Allah yang lain yaitu dalam QS. Az-Zumar/39:9 yang artinya:
“…katakanlah, ‘Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?’ Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima
pelajaran. Al Quran banyak menghimbau manusia untuk menggali dan mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain kedua ayat diatas masih banyak lagi
dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang diisyaratkan Al-Quran seperti
dalam kedokteran, farmasi, pertanian, atau astronomi yang bermanfaat bagi
kajuan dan kesejahteraan umat manusia.[6]
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa
dalam pendidikan Islam harus mengunakan Al Qur’an sebagai sumber utama dalam
merumuskan beberapa teori tentang pendidikan islam. Atau dengan kata lain ,
pendidikan Islam harus berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang penafsirannya dapat dilakukan
berdasarkan ijtihad disesuaikan dengan perkembangan zaman.[7]
3. Dasar-Dasar Pendidikan Islam Menurut As-Sunah/Al-Hadits
Al-Hadits adalah sumber kedua agama dan ajaran Islam. Apa
yang disebutkan dalam Al-Quran dijelaskan atau dirinci lebih lanjut oleh
Rasulullah dengan sunah beliau. Karena itu, sunah Rasul yang kini terdapat
dalamAl-Hadits merupakan penafsiran serta penjelasan otentik (sah,dapat
dipercaya sepenuhnya) Al Quran.
Di dalam As Sunnah juga berisi ajaran tentang aqidah dan
akhlak seperti Al Qur’an yang berkaitan dengan masalah pendidikan. As Sunnah
berisi petunjuk (tuntunan) untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala
aspeknya, untuk membina umat manusia seutuhnya. Dan yang lebih penting lagi
dalam As Sunnah bahwa dalamnya terdapat cerminan tingkah laku dan kepribadian
Rasulullah saw yang merupakan tauladan dan edukatif bagi manusia.[8]
Ada tiga peranan al-Hadits disamping al-Quran sebagai sumber
agama dan ajaran islam.
Pertama, menegaskan lebih lanjut ketentuan yang terdapat di dalam
al-Quran. Misalnya, mengenai shalat. Di dalam al-Quran ada ketentuan mengenai
shalat. ketentuan itu ditegaskan lagi pelaksanaannya. Contoh lain mengenai saum atau puasa selama bulan
Ramadhan. Di dalam al-Quran terdapat ayat mengenai puasa Ramadhan, tapi
pelaksanaannya ditegaskan dan dikembangkan lebih lanjut oleh Nabi melalui
sunnah beliau. Demikian juga halnya dengan zakat dan haji. Mengenai zakat dan haji ketentunnya ada di
dalam al-Quran, namun untuk dapat di laksanakan di kehidupan sehari-hari
ketentuan itu ditambah dalam arti dikembangkan oleh Nabi. Dengan demikian
ajaran yang telah ada dalam al-Quran , namun perlu ditegaskan lebih lanjut oleh
Nabi.
Kedua, sebagai penjelasan isi al-Quran. Dengan mengikuti contoh
diatas, misalnya mengenai shalat. Di dalam al-Quran Allah memerintahkan manusia
mendirikan shalat.namun, di dalam kitab suci itu tidak dijelaskan banyaknya
rakaat,cara,rukun dan syarat mendirikan salat. Nabilah yang menyebut sambil
mencontoh jumlah rakaat setiap salat,cara,rukun dan syarat mendirikan salat.
Demikian juga halnya dengan saum atau
puasa dan haji. Perintah meleksanakannya terdapat dalam al-Quran, tetapi tidak
dijelaskan secara rinci. Nabilah yang menjelaskannya dengan perkataan dan
perbuatan beliau.dalam menunaikan ibadah haji misalnya,Rasulullah mengatakan,
“Ambillah
manasik
hajimu dari manasik hajiku.” Maksudnya, ikutilah tatacara yang dilakukan Nabi
waktu melakukan ibadah haji.
Ketiga,
menambahkan atau mengembangkan sesuatu yang tidak ada atau samar-samar
ketentuannya di dalam al-Quran. Contohnya adalah larangan Nabi mempermadu
(mengawini sekaligus atau mengawini pada waktu bersamaan) seorang perempuan
dengan bibinya. Larangan ini tidak terdapat dalam larangan- larangan perkawinan
dalam surat an-Nisa’(4):23. Namun, kalau dilihat hikmah dari larangan itu jelas
bahwa larangan tersebut mencegah rusak atau putus hubungan silaturrahim antara
kedua kerabat dekat yang tidak disukai oleh agama islam. Dengan larangan itu,
Nabi seakan-akan mengisi ”kekosongaan” mengenai larangan perkawinan. Namun
kalau direnungkan lebih lanjut,iilatnya
(dasar atau motifnya) sama dengan larangan mempermadukan dua orang bersaudara
kandung,yang terdapat dalam surat 23 surat an-Nisa’ untuk mencegah rusak bahkan
putusnya hubungan silaturrahim antara dua kerabat.[9]
Kitab – kitab hadis (al-Hadist) baik di kalangan Sunni
maupun Syi’i adalah sumber pengetahuan yang monumental bagi islam, yang sekaligus menjadi penafsir
dan bagian yang komplementer terhadap al-Quran. Sunnah terutama ucapan Nabi,
membahas berbagai hal mulai dari metafisika (hal-hal non fisik atau tidak
kelihatan) sampai pada tatatertib di meja makan. Selain itu di dalam
hadis/sunah dibahas juga berbagai pertanyaan yang berhubungan metafisika ,
kosmologi ( cabang metafisika yang menyelidiki alam semesta sebagai system yang
beraturan), eskatologi (masa yang akan datang –akhirat). Dan kehidupan
spiritual ( kerohanian,kejiwaan, mental, moral). Sesudah al-Quran, kitab
al-Hadit syang memuat sunah Nabi adalah
sumber petunjuk paling berharga yang dimiliki umat islam, keduanya
adalah mata air seluruh kegiatan dan pikiran Islam. Keduanya merupakan sumber
agama dan ajaran islam.[10]
Oleh karena itu sunnah merupakan
landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim.Sunnah selalu membuka
kemungkinan penafsiran berkembang.Itulah sebabnya,mengapa ijtihad perlu
ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunah yang berkaitan dengan pendidikan.
4. Dasar-Dasar Pendidikan Islam Menurut Ijtihad
Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan
menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ahli syari’at Islam untuk
menetapkan atau menentukan suatu hokum Islam dalam hal-hal yang belum
ditegaskan hukumnya oleh Al Qur’an dan Sunnah. Ijtihad dalam hal ini dapat saja
meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan, tetapi tetap
berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah. [11]
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari al-Quran
dan as-Sunah/al-Hadis yang diolah akal yang sehat dari para ahli pendidikan
Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan
kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori
pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran islam dan kebutuhan
hidup.
D. Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Memahami karakteristik Islam sangat
penting bagi setiap muslim, karena akan dapat menghasilkan pemahaman Islam yang
komprehen- sif. Beberapa karakteristik agama Islam, yakni antara lain :
a.
Rabbaniyah
(Bersumber langsung dari Allah s.w.t)
Islam merupakan manhaj Rabbani (konsep Allah s.w.t), baik
dari aspek akidah, ibadah, akhlak, syariat, dan peraturannya semua bersumber
dari Allah SWT.
b.
Insaniyah
’Alamiyah (humanisme yang bersifat universal).
Islam
merupakan petunjuk bagi seluruh manusia, bukan hanya untuk suatu kaum atau
golongan. Hukum Islam bersifat universal, dan dapat diberlakukandi setiap
bangsa dan negara.
c.
Syamil Mutakamil (Integral menyeluruh
dan sempurna).
Islam
membicarakan seluruh sisi kehidupan manusia, mulai dari yang masalah kecil
sampai dengan masalah yang besar.
d.
Al-Basathah (elastis, fleksibel, mudah).
Islam adalah agama fitrah bagi manusia, oleh karena itu
manusia niscaya akan mampu melaksanakan segala perintah-Nya tanpa ada
kesulitan, tetapi umumnya yang menjadikan sulit adalah manusia itu sendiri.
e.
Al-’Adalah
(keadilan).
Islam datang untuk mewujudkan keadilan yang
sebenar-benarnya, untuk mewujudkan persaudaraan dan persamaan di tengah-tengah
kehidupan manusia, serta memelihara darah (jiwa), kehormatan, harta, dan akal
manusia.
f.
Keseimbangan (equilibrium, balans,
moderat).
Dalam
ajaran Islam, terkandung ajaran yang senantiasa menjaga keseimbangan antara
kepentingan pribadi dan kepentingan umum, antara kebutuhan material dan
spiritua serta antara dunia dan akhirat.
g.
Perpaduan antara Keteguhan Prinsip dan
Fleksibilitas.
Ciri
khas agama Islam yang dimaksud adalah perpaduan antara hal-hal yang bersifat
prinsip (tidak berubah oleh apapun) dan menerima perubahan sepanjang tidak
menyimpang dari batas syariat.
h.
Graduasi (berangsur-angsur/bertahap).
Hukum atau ajaran-ajaran yang diberikan
Allah kepada manusia diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan fitrah
manusia. Jadi tidak secara sekaligus atau radikal.
i.
Argumentatif Filosofis.
Ajaran
Islam bersifat argumentatif, tidak bersifat doktriner. Dengan demikian Al-Quran
dalam menjelaskan setiap persoalan senantiasa diiringi dengan bukti-bukti atau
keterangan-keterangan yang argumentatif dan dapat diterima dengan akal pikiran
yang sehat (rasional religius).
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hasan Langgulung merumuskan
pendidikan Islam sebagai suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi
peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan
fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Dari berbagai literatur
terdapat berbagi macam pengertian pendidikan Islam. Menurut Athiyah Al-Abrasy,
pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan
bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola
pikirnya teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan
manis tutur sapanya.
·
Dasar-Dasar Pendidikan
Islam menurut Al Quran
pendidikan Islam
harus berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an sebagai dasar pertama pendidikan islam
·
Dasar-Dasar Pendidikan
Islam menurut As-Sunah/Al-Hadits
Al-Hadits adalah
sumber kedua agama dan ajaran Islam.
·
Dasar-Dasar Pendidikan
Islam menurut Ijtihad
Ijtihad adalah
istilah para fuqaha, yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang
dimiliki oleh ahli syari’at Islam untuk menetapkan atau menentukan suatu hokum
Islam dalam hal-hal yang belum ditegaskan hukumnya oleh Al Qur’an dan Sunnah.
DAFTAR PUSTAKA
·
Zuhaerini, 1983. Metodik
Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha Nasional.
·
Armain Arief, Pengantar
Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2002,
·
Munardji, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, PT Bina Ilmu, 2004,
·
Mohammad Daud Ali,Pendidikan
Agama Islam,Jakarta,PT.RajaGrafindo Persada,2002
·
Zakiah Daradjat,Ilmu
Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2008
·
Lilis Fauziyah dan Andi Setyawan,Kebenaran Al-Quran dan Hadis,Solo,PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri,2009
[1]
Zuhaerini, 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama.
Surabaya : Usaha Nasional.
[2]
Armain Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan
Islam, Ciputat Press, Jakarta, 2002, hlm. 23
[4] Mohammad Daud Ali,Pendidikan Agama Islam,Jakarta,PT.RajaGrafindo
Persada,2002,hal.93
[5] Zakiah Daradjat,Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta:Bumi Aksara,2008,hal.20
[6] Lilis Fauziyah dan Andi Setyawan,Kebenaran Al-Quran dan Hadis,Solo,PT Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri,2009,26
[7]
Munardji, Ilmu Pendidikan Islam…,
[8]
Ibid.,
[9] Mohammad Daud Ali,Pendidikan Agama Islam… ,hal.112-114
[10] Mohammad Daud Ali,Pendidikan Agama Islam…,hal.15
[11] Munardji, Ilmu Pendidikan Islam…,
Makasih Soal pai
ReplyDelete